Wednesday, February 11, 2015

Review Just In Time

JUST IN TIME
( Tepat Pada Waktunya/TPW )

Pandangan tentang TPW

1.       “ Tepat Pada Waktunya” mewakili sebuah tujuan. Tujuan itu adalah menyingkirkan secara total inventarisasi, meminimalkan pekerjaan yang sedang dijalankan dan ini dimonitor oleh pengurangan terus-menerus apa yang disebut modal kerja (paradoks disini adalah hal itu sebenarnya sama sekali tidak bekerja).
2.      Perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan TPW mencapai begitu banyak sehingga setiap norma yang mapan dalam hubungan dengan pekerjaan yang sedang dijalankan, mutu dan kehandalan harus disingkirkan sebelum gerakan maju ke depan yang sesungguhnya untuk menutup kesenjangan bisa dilakukan.
3.      TPW hanya salah satu unsur atau tujuan yang akan merupakan hasil konsep yang bisa mengendalikan sumber daya setiap orang yang digaji menuju pembuatan perusahaan  yang terbaik dalam bisnisnya. Konsep dibelakang pencapaian ini dikenal sebagai Company-wide Quality Improvement (CQI)---Peningkatan mutu di seluruh perusahaan.
4.      Kemajuan besar juga mewakili sebuah tujuan jangka panjang. Sebagaimana dengan ‘ cacat nol,’ tujuan akhirnya sangat diinginkan, tetapi itu tujuan yang harus diincar dan tidak dengan harapan akan dicapai----namun sebaliknya semua norma harus disingkirkan dan peningkatan, sekecil apapun, akan selalu mungkin terjadi.

Perencanaan untuk TPW

            Merencanakan untuk TPW adalah salah satu aspek yang tanggung jawabnya tidak bisa diserahkan begitu saja oleh manajemen atas. Pencapaian yang sukses memerlukan paling  banyak perubahan penting dalam hal gaya, arah dan budaya manajemen. Ini juga memerlukan komitmen dan keterlibatan yang besar sekali.
Tujuan besar yang sesungguhnya hanya bisa dicapai kalau TPW berjalan di seluruh panjang rantai pemasokan. Karena alasan ini, hubungan pelanggan/pemasok merupakan sifat kunci dalam pencapaian TPW, tetapi itu bukan satu-satunya. TPW bukanlah sesuatu yang kita lakukan kepada pemasok, itu sesuatu yang kita lakukan untuk melibatkan mereka didalam. Tingkat mutu yang tetap dan dapat diramalkan yang sampai saat ini dipandang mustahil juga merupakan hal yang fundamental bagi pencapaian TPW.

Konsep yang berhubungan dengan TPW

1.      TPW adalah tujuan. Untuk mencapai tujuan itu, diperlukan usaha melakukan evolusi, mengembangkan dan memperpadukan banyak konsep dan teknik serta mulai mengubah budaya perusahaan.
2.      Konsep ini tercakup di dalam konsep keseluruhan Peningkatan di seluruh Perusahaan( CQI).
3.      Tujuan CQI adalah menciptakan sebuah organisasi yang didalamnya setiap karyawan dari puncak ke dasar bekerja untuk menjadikan organisasi tersebut yang terbaik disatu bidang tertentu.
4.      Salah satu aspek utama CQI yang penting untuk mencapai TPW adalah proses peningkatan tahunan proses demi proses.
5.      Pada dasarnya ada dua jenis masalah ; sporadis dan kronis.
Masalah sporidis adalah yang terjadi dengan spontan, biasanya tidak terduga-duga dan secara acak. Contohnya, sebuah mesin mogok atau slang robek, tanpa alasan yang jelas mesin tiba-tiba mulai menghasilkan produk bermutu rendah.
Masalah kronis tidak bisa segera diidentifikasikan secara individual seperti masalah sporadis. Contohnya, salah satu masalah yang dihadapi hampir semua organisasi adalah hasil yang diperoleh dari suatu bahan sumber .
6.      Untuk mencapai TPW jadi perlu ditemukan cara-cara untuk menangani masalah kronis seperti proyek demi proyek.Ini berari bahwa semua norma yang sudah mapan harus dipertanyakan.

Perusahaan-perusahaan yang menggunakan CQI secara terus-menerus   mengembangkan metode yang lebih efektif untuk menjadikan dirinya lebih mampu bersaing, tetapi tujuannya tidak pernah berubah. Tujuan CQI, diantaranya :
·        Menyingkirkan kemungkinan adanya produk cacat
·        Mengurangi limbah
·        Menurunkan biaya
·        Membuat lebih sedikit kegagalan lapangan
·        Menyingkirkan penyimpanan stok
·        Meningkatkan pasar dan reputasi
·        Mengalahkan pesaing,dll

Konsep, perencanaan dan teknik yang terlibat termasuk :

·        Membentuk tim perusahaan puncak
·        Membentuk tim berdasarkan fungsi, wilayah dan pabrik
·        Tim di dalam dan antardepartemen
·        Kegiatan karyawan langsung dalam kelompok-kelompok kecil
·        Teknik untuk identifikasi, seleksi dan pemecahan serta tindkan perbaikan bagi proyek
·        Pemantauan biaya
·        Pemantauan program
·        Fasilitasi dan dukungan
·        Pengembangan sistem, pemeriksaan dan jangka waktu



PRINSIP DASAR

Penyerahan yang tidak bisa diandalkan atau tidak bia diramalkan.

Semakin tidak bisa diandalkan penyerahan, semakin besar keperluan akan stok. Untuk stok semacam itu kita telah mengikat modal perusahaan guna menjaga diri kita terhadap masalah yang seharusnya menjadi beban pemasok, bukan ditanggung dengan biaya kita. Dua alasan mengapa modal terikat, yaitu :
1.      Secara tidak sadar telah terima sebagi fakta bahwa tidak ada pemasok yang sempurna, karena kekurangannya, biaya harus disediakan untuk membangun pertahanan.
2.      Secara naluriah, karena efek konsekuensi ‘kehabisan stok’ bisa menimbulkan bencana, dan tanggung jawab untuk peristiwa seperti itu biasanya diletakkan pada pejabat bagian pembelian, dialah yang akan dikritik karena meyimpan stok dalam tingkat yang aman, bukan pemasok yang gagal memenuhi janjinya.
Dengan demikian bisa dilihat bahwa dua peristiwa yang sama-sama eksklusif mungkin terjadi :
1.      Biaya stok cadangan yang berlebihan
2.      Biaya efek konsekuensi situasi ‘kehabisan stok’

Stok Pabrik

            Di pabrik sendiri stok cadangan ada dalam beberapa bentuk. Stok ini biasanya naik-turun tingkatnya terus-menerus, tidak didokumentasikan karena tidak ada persyaratan yang terlibat, dan lebih sulit ditaksir dibandingkan dengan stok cadangan yang disimpan dalam gudang barang masuk atau digudang barang jadi. Secara kolektif, stok ini diberi penghormatan dengan disebutkan sebagai “pekerjaan  yang sedang di jalankan”. Tentu saja, pekerjaan yg sedang dijalankan selalu merupakan ukuran kunci industri.

Kerusakan pabrik atau mesin

Kejadian ini mungkin berada di bawah pengendalian langsung manajer, tetapi banyak yang tidak. Tanggung jawab ini biasanya dipegang oleh manajer perawatan. Pekerjaan manajemen yang sesungguhnya adalah menemukan penyebab gangguan sporadis, dan memberikan obat untuk mencegah hal itu terjadi di masa mendatang. Biasanya ini memerlukan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara variabel proses dan hasil produk.



TPW dan Produksi yang Diatur Langkahnya

Cara ‘pendekatan lunak’ berarti memberikan peluang kepada faktor gangguan secara tidak terduga-duga atau secara acak. Sebagai contoh, seorang operator mungkin mengalami kesulitan dengan operasi. Ini mungkin berakibat dia tidak bisa mengikuti langkah produksi, peristiwa ini lewat tanpa tercatat, dan karena tidak sensasional maka mungkin tidak diingat. Sedangkan cara ‘pendekatan keras’ operasi dilangsungkan dalam urutan secara langsung di jalur perakitan atau ban berjalan. Operator menghadapi jalur dan produk tidak dipindahkan ke meja atau bangku yang berhampiran seperti dalam cara pendekatan ‘lunak’. Akan ternyata cara pendekatan ‘keras; memberikan stres besar terhadap operator.  Ini benar kalau ‘kesalahan’ ditimpakan pada operator yang bersangkutan. Namun dalam TPW, tidak begitu keadaannya. Kesalahan operator dipilah-pilah menjadi 3 kategori dasar, yaitu :
1.      Kesalahan karena kurang perhatian
2.      Kesalahan teknis
3.      Kesalahan secara sadar
Dengan berlandaskan ‘kesalahan itu manusiawi’ harus diterima bahwa semua manusia membuat kesalahan.

Pembuangan dan Pengerjaan Kembali

Aspek lain dari pekerjaan yang sedang dijalankan biasanya disebutkan sebagai ‘pengerjaan kembali’. Istilah ini biasanya mengacu pada produk yang mungkin berada di luar spesifikasi tetapi masih bisa diperbaiki dengan memprosesan ulang atau perbaikan di luar jalur. Kadang-kadang, kata lain digunakan untuk membuat pengerjaan kembali tampak terhormat, misalnya ‘pengepasan’. Kebanyakan perusahaan sangat peka dengan pembuangan. Hampir semua perusahaan menyimpan statistik untuk memperlihatkan tingkat pembuangan, kecenderungan dan sebagainya. Anehnya, jauh lebih sedikit organisasi yang mengubah kuantitas ini menjadi angka biaya, dan bahkan lebih lagi yang memecah-mecahnya menjadi butir biaya spesifik.

Modifikasi Produk

Perubahan produk terdiri dari dua jenis, yang terencana dan tidak terencana. Perubahan produk terencana biasanya terjadi dalam daur yang ditetapkan sebelumnya. Perubahan ini, kalau mengandaikan bahwa ini bisa dijalankan sesuai dengan rencana, akan punya sedikit pengaruh terhadap tingkat penyimpanan stok dan inventarisasi pada umumnya. Perubahan yang tidak dijadwalkan akan punya akibat langsung terhadap tingkat keluaran komponen atau produk yang sudah ada dalam sistem.

Mutu dan Penyerahan Pemasok-Efek terhadap Pekerjaan yang sedang dijalankan

Peranan pemasok sangat penting  bagi pencapaian TPW. Tempat unjuk kerja pemasok mempengaruhi TPW adalah penyimpanan barang. Supaya bisa melakukan hal ini secara sukses kita harus mengindentifikasi kelemahan dalam hubungan yang terorganisasi antara pemasaran dan rancangan, rancangan produksi, keuangan dan sebagainya. Dengan demikian terbukti bahwa pencapaian TPW tidak sederhana. Banyak sekali pengetahuan dan keahlian yang diperlukan, dan dimana tempat yang lebih baik untuk memperoleh keahlian itu selain dalam organisasi sendiri.


Produksi dorong/tarik

Pada dasarnya, produksi bisa dipikirkan dalam dua kategori :
1.      Memproduksi karena permintaan (sistem tarik)
2.      Memproduksi untuk memprakirakan permintaan atau membuat untuk stok (sistem dorong)
Kelebihan dan kekurangan sistem dorong/tarik
Kelebihan utama sistem dorong adalah kemampuan memprakirakan penjadwalan dan pembebasan mesin. Sedangkan kekurangan utama dari sistem dorong adalah ketidaktepatan prakiraan. Sistem tarik memberikan tuntutan kepada mereka yang bertanggung jawab untuk pemeliharaannya.  Tujuan sistem dorong haruslah menjaga agar kuantitas kelompok pada tingkat yang serendah mungkin, kelompok kecil barang yang sering menjadi sasarannya.
Faktor-faktor umum tertentu dari pembahasan ini diantaranya :
1.      Dalam bentuk tertinggi, pabrik TPW tidak punya margin keamanan dalam bentuk stok pendukung, penyimpanan hidup atau pekerjaan yang sedang dijalankan.
2.      Semua norma yang berhubungan  dengan faktor-faktor keamanan ini terus menerus ditantang
3.      Hanya pekerjaan yang sedang dijalankan yang benar-benar sedang diproses pada satu saat saja yang tidak ditantang, dan bahkan dalam hal itu pun beberapa operasi mungkin disingkirkan
4.      Pabrik harus dijaga supaya tetap dalam keadaan jalan yang baik sepanjang waktu menggunakan rutinitas perawatan terencana
5.      Perakitan dengan ban berjalan ‘keras’ lebih mungkin membuahkan hasil TPW dibandingkan dengan sistem ‘lunak’ karena sistem ‘keras’ menonjolkan kesalahan secara lebih dramatis
6.      TPW memerlukan penerapan intensif program keterlibatan pekerja, terutama yang memperpadukan teknik pemecahan masalah
7.      Perancang produk harus menggunakan rancangan yang memadai dan terbukti menekan sampai batas minimal risiko modifikasi tidak terduga-duga terhadap produk yang sudah ada
8.      Prinsip produksi ‘tarik’ lebih mungkin bisa mencapai TPW dibandingkan dengan prinsip ‘dorong’. Walaupun demikian, tidak mungkin sistem ‘tarik’ bisa digunakan secara eksklusif karena keperluan akan tanggapan cepat dalam beberapa kasus.
9.      TPW tidak tergantung pada pemakaian komputer. Kalau memang ada pengaruhnya hal itu mengurangi keperluan terutama kalau prinsip ‘tarik’ diterapkan
10. Mereka yang berusaha melaksanakan konsep yang berhubungan dengan TPW harus diberi tahu agar meraih sukses dalam organisasinya sendiri lebih dulu sebelum mencoba membenahi rumah pemasoknya
11. TPW tidak bisa dicapai dalam sekejap mata. Itu adalah tujuan jangka panjang. Ini melibatkan semua personel dari semua tingkat dalam proses berkesinambungan tahun demi tahun. Persoalan yang sesungguhnya adalah bilamana, dimana dan bagaimana harus memulai.

PROSES PENINGKATAN

1.      TPW tidak dapat dicapai tanpa motivasi yang semestinya. Motivasi harus dipikirkan dalam tiga kategori yaitu :
·        Motivasi untuk kontrol
·        Motivasi untuk peningkatan
·        Motivasi untuk keterlibatan
2.      Masalah bisa dibagi menjadi dua kategori, masalah ‘kronis’ dam ‘sporadis’. Terutama masalah ‘kronis’ yang memberikan kesempatan besar untuk peningkatan TPW
3.      Ada urutan peristiwa universal sebagai landasan untuk membuat semua peningkatan dan ini sama-sama bisa diterapkan pada masalah kronis maupun masalah sporadis
4.      Urutan universal melibatkan dua perjalanan. Perjalanan dari gejala ke penyebab, dan perjalanan dari penyebab ke obat
5.      Perjalanan pengobatan baru lengkap setelah sarana untuk mempertahankan keuntungan peningkatan ditetapkan.
6.      Contoh kasus menunjukkan bahwa peningkatan dramatis terhadap produktivitas, mutu dan pengurangan inventarisasi bisa dicapai melalui cara pendekatan proyek-demi proyek.
7.      Proses peningkatan yang diuraikan dalam bab ini mutlak bersifat fundamental bagi pencapaian TPW. Ini dapat diterapkan pada semua tahap dalam daur kehidupan produk, misalnya :
·        Rancangan
·        Pemabrikan
·        Pengepakan
·        Distribusi
·        Dukungan purnajual
·        Mutu pemasok
·        Administrasi
8.      Proses menuju TPW bisa dilakukan lewat MRPII , peninjauan urusan  rumah tangga dan kontrol biaya, namun masalah yang mewabah tidak bisa dipecahkan tanpa penerapan proses peningkatan. Tanpa hal itu, masalah kronis, stok cadangan, pekerjaan yang sedang dijalankan dan sebagainya akan tetap ada.

ASPEK RANCANGAN
1.      Rancangan kerap kali merupakan sumber utama kesempatan yang berhubungan dengan TPW dan ini bisa berasal dari rancangan konseptual, rancangan fungsional dan rancangan proses. Rancangan mencakup segala-galanya termasuk sarana pendukung produk purnajual.
2.      Rancangan bisa bertanggung jawab untuk sampai sebanyak 80 persen dari semua kegagalan.
3.      Spesifikasi yang samar-samar atau tidak memadai bisa menjadi sumber kegagalan. Spesifikasi ini mencakup :
·        Spesifikasi pelanggan atau performa
·        Spesifikasi rancangan
·        Spesifikasi pemabrikan
·        Spesifikasi penjualan
4.      Proses peninjauan rancangan adalah cara paling efektif  untuk mengurangi kemungkinan masalah yang berhubungan dengan rancangan
5.      Peninjauan rancangan harus dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari personel dalam maupun luar fungsi rancangan, dant terutama mereka yang akan terlibat dalam memenuhi persyaratan rancangan
6.      Kehandalan adalah aspek mutu kehidupan dan harus ‘dirancang di dalam’ produk
7.      Pentingnya pembuatan prakiraan dan pengujian kehandalan kerap kali sangat diremehkan oleh industri. Ini mengherankan karena kehandalan produk perusahaan itulah yang memberi mereka reputasi jangka  panjang.
8.      Kegagalan kehandalan bisa terjadi pada tiga tahap yang berbeda dalam daur kehidupan produk :
·        Kerusakan
·        Kehidupan kerja yang normal
·        Keausan
Þ    Kegagalan karena kerusakan bisa dikurangi melalui teknik pemabrikan yang lebih baik, dan pengujian produk.
Þ    Kegagalan karena keausan bisa ditangkal melalui rutinitas perawatan yang dirancang dengan baik dan kemungkinan produk bisa dipelihara secara teratur melalui rancangan produk yang baik
Þ    Kehandalan dalam masa kehidupan kerja yang normal merupakan sifat dalam mutu  rancangan.
9.      Penaksiran dan prakiraan kehandalan bisa dilakukan pada setiap tahap dalam proses pembuatan rancangan.
10. Faktor-faktor kehandalan kerap kali berkurang karena tekanan untuk mendatangkan produk baru ke pasar. Biaya strategi seperti itu akan sering lebih besar daripada keuntungan setelah modifikasi defensif selanjutnya diperhitungkan; terutama setelah kegagalan yang tidak direlakan mengakibatkan kehilangan reputasi dan dengan demikian juga kehilangan pangsa pasar
11. Pengujian kehandalan memerlukan keahlian dalam penerapan teknik berdasarkan statistik

ASPEK PEMABRIKAN
1.      TPW mensyaratkan tingkat cacat diukur dalam bagian per sejuta. Cacat dalam bagian per sejuta tidak dapat dicapai hanya melalui penerapan metode tradisional, seperti pengambilan contoh dan inspeksi kelompok produk. Ini memerlukan penerapan intensif ilmu dan disiplin mutu.
2.      Rancangan dan pemabrikan tidak bisa dipisahkan karena pemabrikan hanya salah satu aspek fungsi rancangan. Dalam pemikiran TPW, rancangan produk juga mencakup rancangan proses dan proses berarti segala-galanya mulai dari rancangan konseptual sampai kedukungan pemakai.
3.      Konsep perencanaan dan penjadwalan berdasarkan prakiraan terbatas dalam kemungkinan penerapannya pada pencapaian TPW. Usaha yang utama haruslah menaikkan tingkat tanggapan sistem terhadap perubahan tiba-tiba dalam permintaan. Ini menyingkirkan keperluan akan prakiraan penjualan jangka panjang, serta penyimpanan stok barang setengah jadi atau barang jadi.
4.      Masalah yang berhubungan dengan mutu dan dengan demikian juga berhubungan dengan TPW sering timbul dari  keperluan bagi manajer lini untuk memenuhi tujuan yang saring berlawanan secara simultan. Tanggung jawab bagi mutu  harus lebih jelas diidentifikasi dengan manajer lini.
5.      Rencana insentif dan pembayaran berdasarkan hasil pada umumnya menyebabkan hasil bermutu rendah kalau dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh angkatan kerja yang dimotivasi dengan baik dengan menggunakan metode pembayaran tetap.
6.      Program Lingkaran Mutu terbukti merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai kerjasama semua karyawan dalam kegiatan peningkatan, sementara pada saat yang bersamaan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik.
7.      Inspeksi oleh pemeriksa manusia tidak bisa menghasilkan pencapaian tingkat mutu yang diperlukan. Satu-satunya sarana untuk mencapai hal ini adalah dengan metode inspeksi bukan manusia atau lebih baik lagi melalui penyingkiran penyebab dengan proyek peningkatan.
8.      Studi kemampuan Proses sangat penting bagi penyingkiran cacat yang berhubungan dengan proses, bagi peningkatan rancangan proses, evaluasi pemasok dan rancangan produk. Barat harus memberikan apresiasi sampai batas ketika aspek-aspek ini membentuk bagian TPW di perusahaan-perusahaan Jepang.
9.      Studi Kemampuan Proses adalah prasyarat penting bagi kontrol proses, dan kontrol proses memberikan informasi esensial untuk pemilihan proyek peningkatan proses baik bagi tim proyek manajemen maupun tim-tim yang melibatkan angkatan kerja seperti Lingkaran Mutu.
10. Di Barat, pemabrikan berusaha mengendalikan mutu pemasok melalui :
·        Penggunaan banyak sumber, kontrak jangka pendek
·        Persyaratan kontrak yang bermusuhan
·        Penerapan rencana pihak ketiga
11. Di Jepang pemabrikan mencapai mutu tinggi yang konsisten dari pemasok melalui :
·        Penggunaan sumber tunggal, kontrak jangka panjang
·        Hubungan kontrak kerjasama
·        Penggunaan kemampuan proses sebagai sarana untuk memastikan mutu persediaan
12. Di Jepang pemasok didorong untuk punya lokasi di dekat tempat pelanggan. Ini mulai terjadi di Barat sebagai hasil upah oleh Ford Motor Company, General Motors dll untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang.

MELIBATKAN ANGKATAN KERJA
1.      TPW tergantung pada keterlibatan dan peran serta dan memerlukan dorongan yang terpusat dan berkesinambungan pada semua tingkat menuju usaha membuat perusahaan menjadi lebih sukses daripada sebelumnya.
2.      Keterlibatan ini harus diorganisasi dan dikoordinasikan, dan biasanya mengahsilkan terbentuknya tim-tim proyek.
3.      Tim-tim proyek termasuk :
·        Tim manajer
·        Tim spesialis
·        Tim karyawan langsung
4.      Konsep ‘tidak mempersalahkan’ dan tiga peranan sebagai pemasok, pemroses dan pelanggan membentuk landasan identifikasi proyek
5.      Simpul tertutup kontrol manajemen memungkinkan perencanaan mutu dan tindakan diikuti dengan peninjauan, pemeriksaan dan permainan kembali, secara sistematis dan melalui proses tim proyek
6.      Analisis tim proyek memungkinkan penyebab masalah TPW ditonjolkan dan dianalisis pada tingkat makro

MOTIVASI
1.   Motivasi untuk TPW adalah persoalan yan luas dan rumit. Faktor tunggal terbesar dan paling penting yang akan membedakan perusahaan yang telah sukses dalam menerapkan TPW dengan yang belum mungkin terbukti adalah motivasi. Perusahaan yang bisa memotivasi semua sumber operasinya akan jauh lebih sukses daripada yang tidak bisa, tanpa mempedulikan penerapan tekniknya
2.   Rahasianya terletak pada kemampuan mendapatkan efek Gestalt ketika setiap orang dari puncak kebawah bekerja secara kolektif untuk menjadikan perusahaan ‘ mereka’ paling baik dalam bisnis;memanfaatkan kebanggaan yang berasal dari kenyataan menjadi anggota tim pemenang;selalu berusaha berbuat lebih baik; dan mencapai tujuan yang jauh lebih menantang
3.   Dalam perusahaan TPW sejati, tidak ada apapun yang akan dianggap mustahil. Semua masalah harus dipandang sebagai kesempatan
4.   Hal ini juga berlaku bagi organisasi lainnya. Kalau mereka bisa lestari sekarang, tanpa TPW dan dengan semua masalah yang bisa diidentifikasi dengan mudah, bayangkan saja potensi mereka setelah masalah diatasi. Tetapi diperlukan motifasi untuk melakukan hal itu. TPW menyenangkan. Kegagalan tidak. Kita harus menghasilkan pemenang.



PERENCANAAN KEDEPAN
1.   Pra-Perencanaan sangat penting kalau ingin mencapai TPW secara efektif
2.   TPW melibatkan banyak disiplin dan pembacaan yang luas harus dilakukan dengan bantuan rekomendasi yang dimasukkan dalam teks ini.
3.   Sebuah tim peneliti harus dibentuk untuk mengevaluasi semua kebutuhan
4.   Kegiatan tim peneliti harus termasuk kunjungan ke perusahaan-perusahaan, diskusi dengan konsultan, dan kalau mungkin mengunjungi Jepang maupun Amerika Sertikat
5.   Dewan Mutu yang terbentuk dari pada manajer atas terbukti merupakan mekanisme yang efektif untuk mengkoordinasikan dan mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan TPW
6.   Perencanaan untuk TPW harus mencakup analisis tentang semua batas fungsional di seluruh perusahaan.
7.   Petunjuk mutu merupakan sarana yang sangat efektif untuk menguraikan semua aspek sistematis yang berhubungandengan mutu.
8.   Pembuatan rencana mutu memungkinkan proses bisa dirumuskan dan di definisikan. Teknik diagram aliran merupakan sarana yang efektif untuk menghasilkan rencana seperti itu.
9.   Perencanan TPW juga harus mencakup mutu dokumentasi

ORGANISASI

TIM
KEANGGOTAAN
TANGGUNG JAWAB
Tim Strategi Perusahaan
Pimpinan Dewan Utama Direktur Regional
Kebijaksanaan dan tujuan keseluruhan
Mengidentifikasi proyek kunci
Membentuk tim proyek
Menangani proyek utama
Menyaring nominasi dari tingkat lebih rendah
Mengendalikan program sebagai keseluruhan
Mengalokasikan sumber daya untuk peningkatan sistem seta kontrol pemasok
Memriksa dan meninjau program sumber daya
Tim Strategi Regional
Direktur Regional
Jendral Manajer Pabrik atau Lokasi
Kebijaksanaan regional
Tujuan regional
Mengindentifikasi tim proyek regional kunci
Menangani proyek utama
Mengendalikan nominasi dari tingkat lebih rendah
Mengendalikan program regional
Selalu berhubungan dengan tim regional lainnya
Memeriksa dan meninjau
Tim Strategi Pabrik/Lokasi
Manajer Pabrik atau Umum
Tujuan tingkat pabrik
Kebijaksanaan tingkat pabrik
Kepala fungsi, spesialis kunci
Mengindentifikasi proyek kunci
Membentuk tim proyek
Menangani proyek utama
Menyaring nominasi dari tingkat lebih rendah
Mengendalikan program pabrik
Selalu berhubungan dengan tim pabrik lainnya
Memeriksa dan meninjau

KESIMPULAN
Tidak ada satu pun diantara semuanya yang sederhana, dan tidak ada yang berdiri sendiri. Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada penafsiran total, yang salah satu hasilnya adalah TPW melalui penerapan positif konsep-konsep ini, dan setelah itu tidak ada satu pun yang bisa mencegah organisasi menjadi salah satu perusahaan yang paling kuat di dunia. Kalau semua perusahaan menerapkan konsep ini, ada kemungkinan besar masyarakat secara umum akan berubah, dan seluruh etika kerja diganti.

Pekerjaan bukanlah sesuatu yang kita miliki untuk mencambuk diri kita sendiri. Pekerjaan harus menjadi salah satu aspek yang paling banyak memberikan imbalan dan pemenuhan dalam kehidupan kita. Melalui pekerjaan kitalah kita mendapatkan harga diri dan rasa hormat orang lain. Kita masing-masing punya tugas buka hanya mengembangkan kehidupan kita melainkan juga membantu perkembangan orang lain. Promosi tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk memanipulasi dan memanfaatkan orang lain. Melalui promosi kita punya kesempatan yang lebih besar untuk membuat kehidupan bawahan lebih menari, lebih memberikan imbalan dan lebih banyak memberikan kesenangan. Tim pemenang adalah tim tempat setiap orang mengetahui tempatnya masing-masing dan ada tempat bagi setiap orang. Tidak ada apapun yang sukses seperti sukses, dan pengejaran TPW adalah tujuan yang layak bagi organisasi mana pun juga. Semua konsep yang terkandung dalah buku ini relevan apakah TPW merupakan tujuan atau tidak, sebab kita bicara terutama tentang cara terbaik untuk menjalankan bisnis. 

No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...