Monday, February 2, 2015

Jengkis

Asep mulai memperkenalkan produk Jengkis dengan modal keyakinan yang tinggi pada makanan berbahan dasar jengkol akan mempunyai banyak penggemar pada bulan Maret 2014. Ia mengenalkannya dari mulut ke mulut antarteman dan relasi hingga ke beberapa pejabat pemerintah daerah setempat termasuk Wali Kota Kota Bandung (Ridwan Kamil). Selain optimisme itu, ia juga memutar otak supaya bisa memenuhi kreativitas dunia usaha di masa kini.

Jengkol yang selama ini adalah makanan yang kerap dianggap sebagai “Kekasih gelap” justru dibacanya sebagai peluang dalam meraup Rupiah. Asep berkata “Alasannya sederhana, ini kan produk perdana dan belum ada saingannya di ranah dunia usaha”.

Asep menuturkan bahwa saat ini masih banyak yang senang makan jengkol walaupun merasa gengsi untuk memakannya. Kini, harga jengkol setara dengan harga daging dalam takaran yang serupa. Hal ini membuat makanan unik makin kian nyentrik. “Mulailah Saya berpikir untuk mengolah jengkol seekslusif mungkin” ujar Asep.

Akhirnya, ditangan Asep, terjadilah perubahan dari jengkol menjadi jengkis dengan jaminan rasa yang lezat dan tekstur yang empuk. Selain itu, produknya di klaim mempunyai dampak kesehatan yang baik untuk kesehatan karena bisa menyembuhkan dan bebas bahan pengawet. 

Bukan hanya itu saja, jengkolnya ini bebas dari aroma yang menjadi bau khas dari jengkol. Kesemua ini berkat olahan jengkol yang dibuat oleh istrinya dengan bumbu rendang.

Asep berkata “Syukurlah respon memuaskan. Testimoni positif meluncur dari mereka yang telah mencoba rasa rendang jenkol”.

Rata-rata orang yang awalnya sama sekali tidak suka jengkol akhirnya jadi menyukainya setelah makan jengkis, hal ini berdampak pada semakin banyaknya orang yang penasaran karena ternyata hal ini disebabkan pembeli bisa memakan jengkol nikmat tanpa meningkalkan bau mulut setelahnya.

Produksi jengkis pada awalnya dibuat berdasar pesanan yang hanya mencapai 2 Kg dan kini menjadi 5 Kg per hari. Label “Juragan jengkol” disematkan oleh orang di sekeliling Asep. Hal ini tidak membuatnya malu, justru merasa bangga karena bisa membawa jengkol eksis dan naik kelas.
“Lagi pula, Saya dapat rezeki yang halal karena jengkis” ucapnya dengan santai. Setelah sosialisasi melalui mulut ke mulut, Asep mulai merambah ke dunia maya dengan membuat blog sederhana yang beralamat di http://jengkolistimewa.blogspot.com.

Asep belum memutuskan untuk memasukkan Jengkis ke toko-toko kecil, ia berkata “Kita nggak pernah memasok jengkis. Dibuat dadakan saja biar fresh.”

Untuk harga, jengkis per kemasan dengan berat 200 dijual seharga Rp.15.000. dengan harga tersebut, Asep mendapatkan keuntungan sebesar Rp.1.600.000. Asep berkata “Memang belum besar, tapi ini baru awal menuju omset yang lebih besar”.

Pada tahun ini, 2015, Asep ingin secara resmi meluncurkan jengkisnya berikut kios dan penyediaannnya di outlet-outlet dengan target sudah memegang izin PIRT, cap halal MUI, dan perizinan pemasaran lainnya. Dengan itu, Asep yakin akan semakin leluasa merambah pasar nasional dan internasional.

Asep sudah memulai langkah awal berdasarkan pesanan via SMS dan telepon yang membuat pesanan jengkis sudah mencapai daerah Bogor, Banten, Jakarta, Serpong, Bekasi, dan Cirebon. Untuk pemesanan di daerah tersebut, pengiriman dilakukan dengan menggunakan layanan paket antarpos.

Antas jaringan dan pendekatan relasi yang baik, jengkis sudah masuk ke Malaysia, Korea, Arab Saudi dan Australia. Dalam suatu pameran UKM, Kadin Belanda menantang untuk mengekpor karena adanya tren vegetarian di Belanda.

“Akan ada waktunya, tapi sekarang kita ingin menyosialisasikannya ke pasar dalam negeri dulu sambil menyelesaikan legalitas” ujar Asep.

Ada hambatan lain yang dihadapi oleh Asep untuk usaha jengkisnya, yaitu masa kadaluwarsa yang membutuhkan strategi. Saat ini, kadaluwarsanya hanya 4 hari dan nantinya akan menjadi 2 bulan setelah jengkis dikemas dengan pengemasan mesin vacuum sealer tanpa ada perubahan rasa.  Mesin ini seharga Rp.14.000.000.

Sumber :

Halaman 32 Kreatipreneur. Republika terbit pada hari Jumat, 19 Desember 2014. Asep Wahyu pemilik usaha Jengkis mengubah jengkol menjadi camilan. 

4 comments:

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...