Monday, March 16, 2015

Tradisi Nyekar


Foto diambil pada 23 Februai 2013

Menjelang lebaran dan saat lebaran banyak yang berbondong-bondong ke makam sambil membawa air yang akan dibacakan doa, yang disebut juga dengan nyekar.

Nyekar berasal dari kata sekar yang dalam bahasa Jawa berarti bunga dengan mengacu kepada tradisi tabur bunga di makam yang sudah menjadi tradisi turun temurun, meskipun belum tentu memahami maknanya. Apakah makna dari nyekar yang sesungguhnya?

Tradisi menabur bunga bukanlah tradisi Islam melainkan tradisi Jawa yang bersentuhan dengan Hindu. Dalam Islam, nyekar adalah memanjatkan doa tanpa menggunakan apapun. 

Adanya ritual berdoa di makam leluhur sambil membakar kemenyan, dupa, dan melakukan sesaji di makam adalah pengaruh dari agama Hindu.

Prof. Dr. Damardjati Supadjar, Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada berkata “Nyekar sebetulnya merupakan bagian dari tradisi kejawen. 

Dalam tanggalan Jawa, nyekar dilakukan pada bulan Ruwah dimana dalam kalender Islam jatuh pada bulan Sya’ban dengan tujuan untuk mengingat kembali bahwa roh itu abadi dan mengambil nilai kehidupan yang sudah meninggal supaya bisa diteladani generasi berikutnya.

Masyarakat etnis Tionghoa juga mengenal tradisi ini meskipun dikenal dengan istilah yang berbeda, Ceng Beng yang jatuh pada bulan April dengan tujuan menghormati leluhur.

Munjid mengatakan “Maknanya ebih agar seseorang tak lupa tentang hakikat hidup yang sedang dijalaninya. Juga, agar ia tak mengalami disorientasi, tidak terperangkap oleh cil-de-sac kenyataan hidup. Sejatinya, ketika seseorang nyekar ke makam orang tua, ia sedang mengikuti proses pengukuhan kembali keyakinannya dengan menggunakan makam orang tua atau leluhur sebagai tambatan sekaligus cermin”.

“Kalau seseorang tidak bisa memakna tradisi nyekar, berarti hanya ritual saja. Tetapi, jika ia bisa mengambil makna dari tradisi litu, ia akan bisa menggapai keabadian dalam masa hidup yang begitu pendek di dunia” ujar Damardjati yang disambung “Melestarikan nama baik leluhur, itulah yang lebih penting daripada nabur bunganya. Minimal mengenang sisi baik orang yang sudah meninggal, lalu bertekad untuk menjadi lebh baik, insya Allah akan beramal yang abadi”.

Damardjati mempunyai persepsi unik tentang nyekar. Nyekar juga berarti mendendangkan lagu-lagu kehidupan.

Dalam budaya Jawa, semua termaktub dalam nama-nama tembang macapai. Macapai sendiri mengandung makna yang sangat tinggi denga urutan Mijil (lahir), Sinom (agar perempuan menjadi sinom perdop dan pria menjadi maskumambang atau di masa pertumbuhan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya), asmorondono (cinta kasih), dandanggala (bisa membedakan mana yang manis karena tidak semua yang manis itu gula), durma (darma/bebruat baik kepada sesame), pangkur (menyingkirkan hawa nafsu dan angkara murka), gambuh (memasuki kehidupan pernikahan), megatruh (memutus roh), kinanti (menjadi tujuan hidup dengan menjadi hamba yang disayang Allah).

Sumber :

Yusrini, Fiki. Ketika nyekar tiba. Femina No.35/XXXVIII terbit pada 4-17 September 2010. 

2 comments:

  1. dulu, saya kalau ke makam sm ortu nyekar kakek nenek suka bawa air dan bunga, stelah tau sih, ga bawa apa2, yg penting berdoa :)

    ReplyDelete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...