Monday, January 19, 2015

Liburan Edukatif

Apa yang Anda lakukan ketika libur? Saat tanggal merah dari tanggal 25 hingga 27 Desember 2014 kemarin dan nanti tanggal 1 Januari 2015 serta hari libur lainnya? Akan lebih asyik bukan apabila liburan dan seluruh keluarga ikut menikmatinya? Namun, apa yang terjadi bila sesuatu hal di luar kendali dan Anda telah berjanji kepada anak untuk liburan? Atau anak-anak sedang libur namun Anda tetap harus bekerja. Di bawah ada solusi yang saya tawarkan untuk liburan anak secara atraktif dan edukatif.

Vera Itabiliani yang merupakan seorang psikolog berkata “Yang penting harus ada efek refreshing, menyenangkan, tapi juga ada manfaat edukatif. Liburan kreatif bisa mengembangkan aspek pada anak. Dalam memilih program liburan, orang tua tentunya harus mempertimbangkan waktu beserta berapa besarkah biayanya”.

Anak harus diberikan pengertian bahwa anggaran orang tua memiliki keterbatasan. Apabila seandainya dana yang dimiliki kurang atau tidak mencukupi, orang tua bisa menawarkan pilihan lain pada anak dengan membuat penawaran  dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak sesuai dengan usianya.

Terkadang, ada perbedaan keinginan mengenai bagaimanakah cara untuk menghabiskan liburan antara anak dan orang tua. Kondisi inilah yang bisa dimanfaatkan untuk saran belajar dengan membiasakan saling berdiskusi, serta belajar saling menghargai pendapat orang.

Apakah yang terjadi apabila tidak ada kata sepakat? Orang tua sebaiknya mengalah. Vera mengatakan “Mengingat yang akan menjalankan aktivitas adalah anak, jadi sepantasnya orang tua mengalah dengan pertimbangan waktu dan bujet”.

Sebelum anak berangkat mengikuti program liburannya, anak harus mendapatkan penjelasan apa yang akan dialami disana. Maka, dengan begitu ia bisa membayangkan kegiatan seru apa saja yang akan dilakukannya. Orang tuapun harus menyiapkan mental untuk melepaskan anaknya mengikuti program liburan yang telah di rencanakan.

Tidak sedikit program liburan yang mengharuskan anak untuk menginap. Untuk kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada anak Anda bila sudah menginjak pendidikan SD kelas 3 ke atas. Selain umur yang cukup, anak harus sudah bisa mandiri dalam melakukan aktivitas untuk membantu diri. “Ia mesti mampu mandi, pakai baju, menyiapkan perlengkapan, sudah dapat tidur sendiri, dan bertanggung jawab atas barang-barangnya.” Ujar Vera.

Kegiatan liburan terprogram mulai marak semenjak tahun 2010 salah satunya adala program yang diselenggarakan oleh LiburanAnak.com, respon masyarakat sangat baik. “Orang tua pun terbantu dengan adanya program liburan sehingga kegiatan semacam ini menjamur” ujar Niken.

Liburan terprogram lebih disukai mengikngat lalu lintas di Ibu Kota yang padat, Niken berkata “Kalau setiap hari harus dibawa ke sana-sini untuk liburan, kan capek juga. Lagi pula liburan terprogram bisa menghemat biaya” ujar Niken.

Apabila dilihat dari sisi lain, liburan terprogram bisa membuat anak mengenal hal baru sehingga terhindar dari kebosanan. Akan lebih baik bila dilengkapi dengan pelatihan keahlian dan pengetahuan.

Muchammad Heru yang merupakan sekretaris Panitia Pelaksana Liburan Cerdas Ceria ICMI (LCCI) berkata “Kami menggabungkan liburan dengan pendidikan, penelitian dan keilmuan.”.

Kegiatan yang dilakukan LCCI adalah peserta yang merupakan pelajar SMP dan SMA diajak untuk sholat berjamaah, zikir bersama, sholat malam, observasi dan kunjungan ke beberapa perguruan tinggi negeri seperti Universitas Indonesia, Insititut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran dan Universitas Gajah Mada. Peserta akan mengenal dan memilih kampus mana yang targetya sesuai seusai lulus SMA yang dikelompokkan dengan temannya yang berminat sama. “Mereka akan saling memotivasi, dan memikirkan agar tujuannya tercapai” ujar Heru.

Dari berbagai kegiatan, program Museum Ceria dan 1.000 petualang Cilik Rumah Perubahan Rhenald Kasali menjadi favorit karena kegiatannya yang sangat seru dan dapat dinikmati dengan harga yang terjangkau.

Program liburan terprogram ini memiliki variasi biaya dengan kisaran mulai dari Rp.50.000 hingga Rp.1.300.000 per anak.

Niken menyarankan saat memilih program liburan, pilihlah yang mampu mengasah skill anak serta sesuaikan dengan minat dan umurnya. Orang tua janganlah memaksa jika anak merasa enggan untuk mengikuti program. “Meski sudah bayar tetap jangan dipaksa karena takutnya trauma.” Ujar Niken.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah saat menjelang akhir liburan, anak yang berada di jenjang pendidikan taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) biasanya terlena dengan liburan sehingga rutinitas menjadi terganggu dan berantakan. Oleh karena itu, orang tua harus mulai mmebangun kembali rutinitas beberapa hari menjelang masa sekolah. Vera berkata ”Diharapkan dengan begini, anak tidak begitu kaget ketika kembali ke sekolah.”.

Sumber :
Dwinanda, Reiny. Liburan atraktif dan edukatif. Siesta halaman 5, Leisure, Republika, Selasa 23 Desember 2014.


No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...