Monday, January 26, 2015

Gamers

Game online saat ini semakin menjamur, anak kecil hingga dewasa memainkannya. Pemain game disebut juga dengan gamers atau istilah lain sesuai dengan gamenya.

Ini adalah pengalamanku sebagai gamers. Awal aku mengenal game online adalah ketika masih di bangku sekolah menengah akhir setelah mengenal game offline yang bernama Ragnarok. 

Di game itu, awalnya hanya ada 3 server dimana keduanya adalah Chaos dan Loki dengan beberapa slot untuk karakter. Aku bisa memilih mau membuat apa, pilihannya ada Swordsman yang memegang pedang, Acolyte yang memegang tongkat sihir atau gada dengan tipe yang menyupport pemain lain atau penyerang, Archer yang memegang busur dan harus selalu sedia panah dengan berbagai elemen untuk menyerang monster sesuai dengan elemennya, Thief dengan pisau belati. Magician dengan tongkat sihir.

Untuk menjadi Swordsman harus mengikuti ujian dulu dari job Novice di kota Izlude dengan meniti papan tanpa jatuh, soalnya kalau jatuh harus kembali dengan mencari jalan sambil melalui ulat yang ganas menyerang.

Untuk menjadi Acolyte, job novice harus ke tempat A lalu ke tempat B lalu kembali ke tempat A dimana ada 2 tempat B yang banyak monster agresifnya.   

Semua pilihan itu bisa berubah lagi, namun untuk berubah ke job berikutnya aku harus melakukan hunt monster sendiri atau bersama-sama atau inta tolong gb ini sama orang yang levelnya tinggi, menunggu hingga job 40 atau 50, menaikkan status untuk meningkatkan serangan/kemampuan.

Pilihan pertamaku adalah membuat Defender yang merupakan job alternatif dari Knight. Job yang baru keluar setelah ada event job 2-2. Job ini adalah alternatif dari Knight yang merupakan perubahan dari Swordsman. Aku memilih job tersebut karena kostumnya yang sopan karena karakter yang aku mainkan adalah perempuan bukan karakter pria atau istilahnya hode apabila memainkan karakter yang berbeda jenis kelamin dengan pemain, adanya pernyataan bisa jadi TB atau karakter yang tahan badan karena HP (darah) lebih banyak dan itu betul meskipun aku harus bersusah payah dan mmeinta bantuan untuk mengumpulkan item Jack of pumpkin, rotten bandage, serta beberapa item lainnya dan membeli ke orang yang menjadi pedagang yang belum lengkap jadinya aku bisa membantu pemain lain yang mau leveling bareng, minta di GB ah aku seneng banget nge GB orang.

Masuklah aku ke perguruan tinggi, namun karena ingin main game di warung internet sehingga aku jadinya sering bolos disamping aku yang juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Psikologi Universitas Gunadarma. Dan ketika mendapatkan nilai Indeks prestasi komulatif, aku hanya mendapatkan 2,3 di semester pertama. Sesuatu yang dulu sempat aku sesali.

Aku bahkan mengajak beberapa teman sekelas untuk main, wuih serunya saat membunuh monster rame-rame dan dikejar sama bos monster yang akhirnya membuat kami mati berjamaah. Hahahaha.

Keluarlah informasi kalau game Ragnarok bisa menikah, akupun mencoba. Ih lucu bisa pakai skill I miss u untuk memanggil pasangan ke depan aku atau ke depan pasangan. Namun karena aku jarang main, akhirnya aku mengurus perceraian di kota Niffleheim dengan melakukan bunuh diri dari kota .... dan setelah masuk, harus melalui monster ganas.

Naik semester aku main game lain dan mengenal beberapa game online seperti Seal, Gunbound, Tantra, Pangya, RF dan lain-lain. Tapi Ragnarok tetap aku mainkan.

Muncullah suatu server yang apabila membeli pakaian dari pedagang (NPC) maka pakaian dan atribut akan lepas setelah karakter kita mati. Daripada rugi dan menghemat zeny (uang di Ragnarok), maka belilah vocer game.

Dari situlah aku mulai beli vocer game yang kalau dihitung-hitung bisa membeli sebuah mobil, bahkan lebih. Berikut adalah beberapa vocer


Keterangan : gambar diatas adalah vocer senilai Rp.8.000 dan yang dibawah adalah vocer senilai Rp.10.000


Sebenarnya dulu ada beberapa vocer lain ada yang senilai Rp.20.000, Rp.50.000, Rp.100.000.

Bukan hanya itu saja, aku membeli uang zeny dengan rupiah asli dimana 10 juta zeny itu senilai Rp.100.000 dan aku juga membeli 2 id pada orang yang berbeda dan isi karakter yang berbeda. Karakter  (Char)1 yang aku beli itu adalah Knight seharga Rp.100.000 dengan level 97 tanpa equipment dan karakter kedua adalah job High Priest seharga Rp.300.000 dengan full equipment dengan level 70 kalau ga salah ingat dengan pengaturan skill dan stat yang bagus sehingga bisa untuk menyupport orang dengan paket full (agi untuk meningkatkan kecepatan karakter dalam berjalan+blessing yang berguna untuk meningkatkan STR untuk serangan, Int untuk sihir, dex untuk meningkatkan kecepatan saat menggunakan serangan sihir yang juga bisa mengingkatkan serangan sihir serta meninggikan kekuatan serangan pada job archer) karena aku suka banget.

Yah bermain lama tapi dibeli dengan harga segitu, rasanya tidak sebanding dengan uang dan tenaga yang dikeluarkan untuk mencapai level itu.

Sempat 3 kali melakukan komitmen dengan pria yang aku kenal dari game online namun secara bergantian dimana setelah selesai dengan si A dan putus baru ke B.

Pria yang 1 membuatkan buku berjilid intinya rayuan gitu, hubungan kami berakhir setelah ia meminta pekerjaan dengan menitipkan CV ke aku untuk diberikan ke ayahku, dan ayahku berkata "Itu sekolahnya bohong, ga ada itu".

Pria yang 2 meminta tolong carikan tugas kuliahnya, akupun ke Bandung dan memberikan modem kepadanya. Namun apa yang aku dapatkan? Dia marah-marah, memblokir Facebookku, ga balas email, dan berbohong di BBM kalau dia akan datang untuk psikotes dan bekerja.

Pria yang 3 lebih parah lagi, ia menggunakan guna-guna dan orang untuk memata-matai. Hubungan kami berakhir ketika ada suatu kejadian yang akhirnya aku mengetahui bahwa ia bukanlah pria yang memiliki tanggung jawab.

Suatu saat aku merenung karena nominal uang itu, menimbang bahayanya karena pria-pria pembohong dan memilih fokus menyelesaikan kuliah sehingga aku memilih mengurangi frekuensi bermain dan tidak memegang game tersebut dengan tidak ke warung internet, mencabut aplikasi game dari laptop. 

Akupun pensiun dari game online meskipun sempat bermain lagi dan kecanduan lagi namun karena setelah timbul pikiran bahwa main game online tidak ada manfaatnya bagi aku dan masa depan aku, akupun berhenti total hingga sekarang dan menjadi pensiunan gamer. Syukur alhamdulillah.

8 comments:

  1. Betul-betul ya mak... Uang segitu ga kerasa habisnya, hanya untuk mengejar kesenangan semu. Bisa buat beli mobil atau lebih... Innaa lillah :(
    Alhamdulillah mbak bisa keluar dari lingkaran gamers itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ga kerasa hanya untuk kesemuan
      iya bisa buat beli mobil atau mobil
      iya inna lillahi wa inna 'ilahi ra'ji'un
      iya syukur banget bisa keluar dari lingkaran gamers dan pensiun.

      Delete
  2. trims mbak Tya sudah berbagi. semoga anak-anak kita ngga akan terpapar oleh game seperti itu ... :(

    ReplyDelete
  3. Menarik sekali Mak...membuka mata saya yang awam, dan semoga bisa menerangkan kepada anak-anak akan resikonya. Semoga lain waktu ada ceritanya lagi, step2 apa yg harus dilalui bila ingin menjauhi game. Terimakasih yaa..sangat bermanfaat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sebelumnya sudah mampir
      oh gitu
      terima kasih mak
      amin
      sama-sama
      syukurlah :)
      ^^

      Delete
  4. Sampe segitunya ya mak ternyata kalo sudah kecanduan game. Hikmahnya, kita nggak akan pernah tahu dan menyesali kesalahan sebelum merasakan sendiri dampak negatif atas apa yg sudah kita lakukan. :) Thanks sharingnya mak. Semoga benar2 tobat ya mak.. hehee.. dan generasi muda kita dijauhkan dr hal-hal seperti ini ;)

    ReplyDelete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...