Sunday, February 7, 2016

Saya dan penyandang disabilitas mental

Hai kali ini saya mau berkisah tentang pengalaman bersama orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau disabilitas mental.

Kisah dialami ketika saya yang waktu itu masih berkuliah S1 Psikologi, saya bersama teman teman berkunjung ke rumah sakit jiwa Marzuki Mahdi di Bogor. Di kelompok saya, ada seorang mahasiswa laki-laki yang takut saat masuk ke bangsal. Ia dikerumuni oleh penghuni bangsal yang membuat dia berkata, “Orang gila tahu ya kita takut, gue disamperin.”. Penghuni bangsal berkata kepadanya, “Halo ganteng.”.

Penyandang disabilitas mental ada yang dianugrahi kepintaran.

Lalu, ketika saya mencari subjek untuk praktikum psikodiagnostika. Ternyata, seseorang yang namanya A (nama disamarkan karena kode etik Psikologi diharuskan untuk menjaga kerahasiaan) mengatakan kalau dia mengalami schizophrenia.

Saat saya berkunjung ke rumahnya, saya diajak ke Rumah sakit ketergantungan obat (RSKO). Disana, saya menemaninya bertemu dengan psikiater. Ia bercerita kalau sebelum ke psikiater hari ini, ia menjalani psikotes yang dilakukan oleh psikolog di RSKO, menjalani tes EEG.

Kemudian, saat mengambil obat, saya sedih karena harus mendengar kalau jatah obatnya dikurangi dan dia tidak bisa sering ke RSKO karena tidak punya uang untuk transport dan memfoto kopi surat surat guna menggunakan Jamkesmas.

Suatu hari, dia berteriak teriak di rumahnya. Saya sedang sholat di kamar, dia berkata, “Takut sama yang ada di kamar. Jadi saya membisikkan ayat sederhana dan memohon kepada Allah. Iapun tersadar.

Karena merasa hanya itu yang bisa saya lakukan, maka itulah yang menjadikan alasan untuk mengambil perkuliahan profesi psikologi. Awalnya saya ingin mengambil Psikologi profesi klinis. Namun, saya tidak diizinkan oleh papa karena saya ini wanita, nanti kalau mereka ngamuk bagaimana apalagi praktek kerjanya harus menginap di rumah sakit jiwa.

Namun, inilah yang terbaik. Saya merasa cocok.

Lalu, masih terhubung dengan tulisan saya sebelumnya. Sayapun direkomendasi dosen profesi masuk ke komunitas perduli skizofrenia Indonesia (KPSI).

Sempat kasih motivasi ke orang dengan skizofrenia (ODS), kasih motivasi ke caregiver karena saya mengerti sulitnya serta bisa rentan terkena stress juga.

Sayapun ikut psikoedukasi KPSI karena ingin membantu mengedukasi bagaimana ciri dan mengatasi ODS namun untuk tahap diagnose dan penanganan selanjutnya maka akan saya rekomendasi ke psikolog klinis dan psikiater karena semua memiliki peranannya masing-masing.

Suatu hari, saya melihat di sebuah perusahaan saat sedang pulang menuju ke rumah ada seseorang di borgol tangannya di gerbang dan didekatnya ada nasi bungkus yang terbuka sambil dimakan dipinggiran jalan. Jadi saya berpikir sepertinya ini penyandang disabilitas mental. Saya melaporkan ke anonim berharap dibantu, malah saya disuruh menghubungi Puskesmas, namun karena belum tahu apakah puskesmas ada dokter spesialis jiwa atau psikolog klinis jadi hanya bantu share dan bantu itu saja.

2012
Ini adalah tahun yang mengubah hidup saya.

Tanggal 4 November 2012 saya mendengar suara “Tukik, gombal, nafsu, wallahi, sombong, dongeng”. Suara itu ada tiga, yang satu anak kecil perempuan, yang satu perempuan, yang satu laki-laki. Suaranya saling bertabrakan cepat dengan membentuk kalimat tidak jelas.

Suatu hari, saya melihat ada seorang yang berjalan kaki dipinggir jalan tol. Saya jadi teringat saat dulu ngawur pernah jalan kaki dipinggir jalan tol bahkan menyeberang bolak balik terus karena keinginan tidak dituruti karena dibilang dikasih minum tapi keinginan mereka diturutin dan saya disasarin ke kampung yang gelap akhirnya saya jadi tidak percaya sama orang yang katanya mau bantu akhirnya saya keluar dari mobil, berguling dengan tidak berpikir apapun. Mobilpun terhenti. Salah satu orang turun, “Kami hanya mau membantu.”. Terus setelah tiba sampai tujuan, saya bertanya “Apakah mereka sudah sholat?”, katanya belum. Terus saya mengawasi wudlu mereka. Saya mencoba membetulkan wudlunya. Terus saya tiduran karena sedang halangan, ternyata mereka berpura pura sholat. Mereka memanggil banyak orang, dan saya dikerumunin oleh banyak laki-laki. Ini membuat saya takut.

Saya mencoba mengsms orang, mencoba memberitahu, siapa tahu ada yang bantu. Rupanya pulsa saya habis. Semoga orang itu selamar, soalnya saya pernah mendengar saat kuliah di Simatupang kalau ada orang yang jalan di tol kecelakaan dan hartanya dijarah. Ya Allah.

Habis peristiwa di tol itu, saya pulang dengan kaki kiri luka dibagian paha kiri dan berdarah, di pinggang kiri juga luka dan berdarah. Mengingat ini sekarang rasanya malu deh hehe.

Terus, saya dibawa ke habib dan dibawa ke RS.Meilia. Saya bertemu psikiater lalu dipindah ke psikolog. Psikolognya mengatakan saya berwaham. Jadi saya pikir berarti kena yang namanya schizophrenia. Semenjak itu, hidup saya hancur lebur.

Sebenarnya, hidup saya sudah hancur, apalagi tahun 2008 dibawa ke Spkj atau psikiater hanya karena sulit tidur.

Sayapun berinisiatif masuk ke grup grup disabilitas mental. Namun saya diusir, diblokir.

Salah satu yang nyata diusir adalah di grup facebook mental health care Indonesia mereka membully saya dengan mengungkit ngungkit curhat saya, saya dibilang SARA hanya karena bilang kalau di Agama Islam diperbolehkan seorang anak curhat ke orang tuanya, memaksakan pendapat dan keinginan mereka jadi pokoknya harus, lalu mereka bangga menjadi orang gila. Yah mental care apa? Diaturan ditulis boleh curhat tapi saat curhat malah digituin.

Namun, inilah yang terbaik. Hingga kini halusinasi itu masih terus ada. Sayapun sulit bersosialisasi namun masih mencoba bersosialisasi walaupun dijauhin dan menjauh.


“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis
”Giveaway”

2 comments:

  1. Sebelumya terima kasih ya udah berpartisipasi dalam giveaway kami. Semoga dengan cara ini kita bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya perhatian terhadap ODGJ.

    Kami juga prihatin dengan cerita kamu, kenapa karena hanya degan curhat bisa dikeluarkan dari group?

    Salam sehat jiwa selalu,
    Liza & Tunis

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kaka, amin, terima kasih sudah berkunjung dan komentar disini

      Delete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...