Wednesday, February 3, 2016

Keunikan Jawa Melayu dan Psikologinya

Hai...

Postingan adalah postingan untuk mengikuti lomba "Gramedia Blogger Competition" yang bertema eksplorasi budayamu. 

Mengekplorasi budaya di Indonesia terlalu banyak, jadi disini yang saya bahas adalah budaya yang dibawa karena dilahirkan atau keturunan.

Saya berasal dari perpaduan Jawa dan Melayu. Ayah saya berasal dari Solo, nama saya berakhiran huruf O. Ibu saya berasal dari Medan namun dari suku Melayu. 

Saya melihat budaya Jawa itu ulet (gigih dalam menggapai sesuatu), meninggikan toto kromo (bertutur kata yang sopan santun, ramah tidak ketus khususnya dalam menjawab pertanyaan, tidak berkata mencela), gotong royong (mau saling membantu disaat saudaranya susah atau butuh bantuan), menekankan kesederhanaan, bersifat rukun, damai dan sejuk. 

Dalam http://kakashing.blogspot.co.id/2010/10/psikologi-jawa.html, Orang Jawa itu ada Psikologinya. 

Dari link tersebut diketahui bahwa orang Jawa memiliki sifat Rasa yang maknanya memiliki perasaan cinta, marah, belas kasihan dan kemesraan, mengawasi diri sendiri, merasakan perasaan orang lain dalam rasanya sendiri. Aku, Kramadangsa adalah mempelajari diri sendiri dimana "Aku" nya orang Jawa tidak pernah tunggal individual.

Namanya Psikologi Jawa yang kini juga tengah dikembangkan. 

“Ki Ageng Suryomentaram menciptakan teori psikologi Jawa karena ia orang Jawa. Tapi ajarannya bisa jadi relevan tidak hanya terbatas bagi orang Jawa saja. Teori psikologi sebenarnya tidak terbatas dengan kewarganegaraan dan letak geografis, apalagi etnisitas,” kata psikolog UGM, Drs. Hadi Sutarmanto, M.S., dalam Sekolah Kawruh Jiwa Suryomentaram di Fakultas Psikologi UGM, Jumat (14/11). 

Salah satu ajaran Ki Ageng Suromentaram seperti diketahui, di antaranya memaknai rasa senang dan tidak senang. Menurutnya senang atau tidak senang itu bukan fakta tetapi reaksi kita atas fakta. Manusia itu makhluk dengan rasa, walaupun bermacam tapi dapat diringkas menjadi dua, rasa enak dan tidak enak, Dalam pergaulan seseorang harus mengerti rasa dari yang lain. Ketidak pengertian akan menimbulkan rasa yang tidak enak dan akhirnya timbul perselisihan. Karenanya mengerti rasa orang lain maka harus mengerti rasa diri yang mengahalanginya. (Humas UGM/Gusti Grehenson dalam https://ugm.ac.id/id/berita/9470-ugm.kembangkan.teori.psikologi.ki.ageng.suryomentaram)

Kalau Melayu, tidak boleh bernyanyi sampai tenggorokannya terlihat, tidak boleh tertawa terbahak bahak sampai tenggorokan terlihat jadi mulutnya ditutupi dan kalau silap/lupa maka akan menutup mulut sambil tertawa dan berkata maaf, berkata terus terang kepada orangnya dengan tidak berbicara di belakang.
keduanya percaya kepada Tuhan, bersifat pemberani (berani bertanya pihak yang terlibat secara adil dan berlapang dada, berani menyatakan pendapat atau teguran, dan berani menilai sumber-sumber atau bukti-bukti yang berkait yang mungkin tidak memihak kepada sangkaan awal kita (https://www.facebook.com/notes/%D9%81%D8%A7%D9%8A%D8%B2-%D9%86%D8%A7%D9%82%D9%85%D8%A7%D9%86/mengulas-dua-masalah-psikologi-melayu-yang-lazim/84031568428/)).

Menjadi perpaduan antara dua suku itu ya seru. 

No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...