Sunday, March 20, 2016

Opini mengenai peranan keluarga dalam pendidikan anak

Selamat datang di tulisan saya, kali ini saya mau menulis untuk lomba blog yang bertema penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak yang informasinya bisa dibaca di http://infolombanulis.blogspot.co.id/2016/02/lomba-jurnalistik-feature-opini-berita.html.

Menurut opini atau pendapat saya, pendidikan anak diperkuat oleh peranan keluarga. Penguatan itu bisa berupa dukungan pendidikan yang terbaik untuk anak, tidak melihat kekurangan serta menganggapnya tidak bisa ini itu, tidak memberikan ucapan/perilaku yang negative.

Perilaku yang negatif bisa dilakukan oleh keluarga dengan mendengarkan aduan/pertanyaan dari orang lain yang membuat keributan/kegaduhan dalam keluarga lalu menyalahkan anak dan menjatuhkan anak.

Perilaku itu, kerap kali disertai dengan teriakan, pemukulan, dan aksi kekerasan lainnya yang terkadang aksi kekerasan tersebut tidak berbekas pada tubuh anak.

Ironisnya, lingkunganpun akan turut menyalahkan anak karena otoritas orang tua/otoriter. Sikap otoriter ini, dapat membuat anak menjadi ikut otoriter di lingkungannya, sehingga tidak mau menerima saran dan kritik yang berdampak diberlakukan kembali pada keluarganya dan lingkungan kerjanya.

Selain menyalahkan si anak, lingkunganpun mengadukan perilaku anak kepada orang tua/keluarganya supaya ditindak lanjuti tanpa pernah dipikirkan efeknya ke si anak dan keributan serta kekerasan yang diterima anak. Karena yang dipikir itulah yang terbaik.

Terkadang, ketika anak menerima sikap/perilaku otoriter ini hanya terdiam/mengeluh/menangis/memberontak/lari dari kenyataan dengan berperilaku buruk seperti masuk ke pergaulan bebas bahkan pergaulan bebasnya ada yang di bawah umur.

Dampak dari pola asuh ini bisa membuat anak sulit berkomunikasi, sulit bersosialisasi, bingung, pendiam, tertutup, curigaan/tidak percaya sama orang.

Setyo Mulyadi yang merupakan Psikolog anak (dalam   http://googleweblight.com/?lite_url=http://keluarga.com/pengasuhan/sebab-anak-jadi-pemberontak-dan-suka-melawan&ei=MZc0k3ar&lc=id-ID&geid=10&s=1&m=921&ts=1454350274&sig=ALL1Aj5xLhq1JtVbaDWTkj49-OC1_wOf3A), mengatakan bahwa, jangan salahkan anak-anak Anda bila tiba-tiba mereka berani melawan Anda atau tidak mau menuruti nasehat Anda.

Hal ini terjadi dikarenakan ada rasa ketidakpuasan di dalam hati mereka, tentang pola Anda mengasuh, atau karena kurangnya perhatian dari Anda.

Oleh karena itu, bila ada di antara Anda yang saat ini sedang menghadapi pemberontakan anak, daripada terus-menerus bermusuhan dengan mereka, ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai penyebab mengapa seorang anak tiba-tiba menjadi pemberontak dan berani melawan orang tuanya.

  * 1. Sikap otoriter dari orang tua
Orang tua yang otoriter sangat mempengaruhi kepribadian sang anak, karena tekanan demi tekanan yang dirasakan, lama kelamaan akan membuat anak harus berani mengambil sikap, apakah akan tetap mematuhi orang tuanya atau harus menuruti kata hatinya. Berusahalah untuk tidak menjadi orang tua yang demikian, Anda boleh mengajarkan disiplin serta ketegasan kepada anak Anda, tetapi tetaplah fleksibel dalam proses penerapannya.

* 2. Menyuruh anak di saat yang tidak tepat
Ketika Anda ingin menyuruh anak untuk melakukan sesuatu, sedangkan dia sedang asyik dengan kegiatannya, biasanya anak akan enggan untuk mematuhi perintah dari orang tuanya karena merasa terganggu. Bila sudah demikian hindari untuk memaksanya, selama Anda tetap bisa melakukannya seorang diri, maka kerjakan. Namun, bila hal tersebut sangat mendesak dan Anda betul-betul membutuhkan bantuan darinya, maka usahakanlah untuk menyampaikannya dengan cara yang baik, beri dia pemahaman bahwa bantuan dari dia sangat Anda perlukan. Dengan demikian, mereka akan merasa dibutuhkan meskipun merasa terganggu anak Anda akan sadar karena itu adalah bagian dari tanggung jawabnya.

  * 3. Orang tua tidak bisa memenuhi keinginan si anak
Bila orang tua tidak bisa memenuhi keinginan anaknya, sebagai bentuk protes biasanya mereka akan menunjukkan sisi keras kepalanya dengan harapan keinginannya dapat dipenuhi atau sekadar ingin mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

  * 4. Anak dibiarkan tumbuh hingga mengalami krisis keteladanan
Biasanya terjadi ketika orang tua terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, bisa dikarenakan masalah pekerjaan atau karena benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan keluarganya. Ketahuilah bahwa anak-anak sangat mendambakan didikan serta teladan dari orang tuanya. Namun, bila di dalam keluarganya peran orang tua sudah tidak lagi berfungsi, maka jangan heran bila mereka berani melawan Anda.

  * 5. Pengaruh lingkungan sekitar dan pertemanan
Lingkungan di mana keluarga Anda tinggal juga sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak Anda. Kawan-kawan bermainnya juga turut andil dalam proses pembentukan jati diri mereka. Oleh karena itu, bila lingkungan tempat tinggal Anda buruk, maka jangan heran bila tiba-tiba anak Anda bisa mengucapkan sumpah serapah.

  * 6. Mencontoh perilaku orang tuanya
Anak adalah seorang peniru sejati, mereka akan meniru apa saja yang dilihat dan didengarnya. 

Sebagai orang tua, bila Anda mendapati anak Anda berani melawan, maka introspeksilah diri, tanyalah pada diri Anda apakah selama ini Anda telah menunjukkan teladan yang baik kepada mereka atau justru sebaliknya. Bila Anda mengharapkan memiliki anak-anak yang patuh, maka berikanlah mereka teladan, hentikan segera pertengkaran-pertengkaran dengan pasangan Anda dan jangan pernah mengulanginya lagi. Bentuklah sikap yang positif pada anak Anda sejak mereka masih kecil, sehingga ketika nanti beranjak dewasa mereka akan segan untuk memberontak ataupun melawan Anda.

Menurut saya, untuk nomor lima itu penting. Apabila anak dibiarkan berada di lingkungan yang suka mencela orang lain, menertawakan orang lain, menjahati orang lain, berkata dengan tidak sopan dan santun, bercanda tidak mengikuti etika tata krama, maka anak akan begitu. Itulah pentingnya dukungan dan pengawasan dari orang tua.

Kalau dilihat dari kasus yang menimpa I (nama disamarkan karena kode etik Psikologi) dimana dia saat kecil dimarahin di depan umum saat makan membuat dia menjadi tidak dapat makan di tempat umum dan bawaannya selalu mau muntah.

Sikap membentak anak, memaksa anak, menakut-nakuti anak bisa membuat timbulnya masalah. Hal ini seperti tertuang pada blog saya http://hatidanpikiranjernih.blogspot.co.id/2015/02/review-mengatasi-problem-anak-sehari.html dimana ada kasus.

Kasusnya adalah putrinya yang sudah 4 tahun susah makan padahal adiknya yang baru 2 tahun makan dengan lahapnya sehingga badannya tampak sehat dan berisi. Ia sudah memaksa supaya anaknya ini mau makan lebih banyak, menakuti dengan akan membawanya ke dokter biar di suntuk, mencoba mengancamnya dengan keras namun yang ada malah anaknya menangis keras sambil berujar "Kalau begitu, Putri tidak mau makan sama sekali! Huuu..Huuu...!".

Lari dari kenyataan ini yang berbahaya. Anak bisa jatuh ke pergailan bebas dana tau bunuh diri. 

Dalam http://hatiputih.blogdetik.com/2016/03/07/pergaulan-bebas-dibawah-umur-dalam-islam untuk mencegah pergaulan bebas orang tua harus
1.mengawasi pergaulan anak, dengarkan masalah dan keluhan anak darisitu bisa tahu bergaul dengan siapa nah saat diskusi kasi tau
2....
3.isi waktu dengan kegiatan positif

Fenomena bunuh diri sedang tengah marak-maraknya terjadi, dan ini terjadi juga pada anak-anak. Terkadang atau malah seringkali anak-anak terlihat bahagia atau berprestasi, tapi ternyata di dalamnya hancur lebur, psikologinya terguncang. Walaupun tidak semuanya begitu, ada juga yang benar-benar bahagia.

Menurut saya, anak akan berbahagia apabila minatnya didukung oleh orang tua, bakatnya diasah sejak dini, dan adanya pola komunikasi yang sehat.

No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...