Sunday, April 27, 2014

Kesehatan itu sesuatu dan menjadi sesuatu

Selamat datang di blog saya, kali ini saya akan menulis sedikit mengenai kesehatan, pendidikan, sosial yang sebenarnya pernah di tuliskan di mana-mana seperti beberapa tulisan yang ada di blog saya ini disini ataupun di dua blog saya yang lain yakni di http://tyaset4.blog.com dan http://tyasetarabitansardjono.wordpress.com, di blog kartunet, di kompasiana, namun saya memang belum pernah menuliskan mengenai dhuafa atau miskin. Selamat membaca.

Sebelum itu, mohon izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya adalah pemerhati kesehatan, kenapa? Soalnya ini mencakup semuanya. Dan kebetulan, saya adalah salah satu dari tenaga IMCI (Indonesia Medika City Initiator) yang ada di departemen HID (Health Interconnection Development) di Depok yang merupakan domisili saya. Mohon doanya. Dan Indonesia Medika adalah industri yang bergerak di bidang kesehatan.

Berbicara mengenai kesehatan, di industri sendiri apabila kurang memperhatikan kondisi lingkungan kerjanya dan kurang perduli kepada pekerjanya, maka bisa menyebabkan terganggunya kesehatan fisik maupun kesehatan mental atau disabilitas mental (Psikologi). 

Kesehatan fisik itu salah satunya adalah terkena penyakit yang menyerupai Tuberkulosis. Dan untuk kesehatan mentalnya berbagai macam bentuknya yang ini diawali dengan stres yang datang baik dari lingkungan keluarga, lingkungan kantor ataupun lingkungan masyarakat yang apabila tidak ditangani dengan cara yang tepat, maka bisa menjadi gejala disabilitas mental dan apabila kurang tertangani dengan baik, maka penderita bisa berakhir kepada gila atau kehilangan akal. 

Gejala disabilitas mental itu bermacam-macam ada yang berbicara sendiri, ada yang kecanduan internet, ada yang terlalu percaya diri atau hanya memanfaatkan atau narsistik, ada yang membalas dendam, ada yang berbohong, ada yang paranoid (suka curiga), ada yang mendengar suara-suara, ada yang tertawa sendiri, ada yang tidak memberika emosi (afek datar) dan sebagainya. Namun, untuk menentukan apakah kita sehat secara mental, maka dibutuhkan tenaga ahli untuk melakukan beberapa proses seperti wawancara, psikotes dan apabila di butuhkan, maka sang tenaga ahli kesehatan itu akan merekomendasi untuk melakukan scan EEG.

EEG adalah merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala yang dapat mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan oleh arus ion di dalam neuron otak dan dalam konteks klinis, EEG mengacu kepada perekaman aktivitas elektrik spontan dari otak selama periode tertentu, biasanya 20-40 menit, yang direkam dari banyak elektroda yang dipasang di kulit kepala (http://id.wikipedia.org/wiki/Elektroensefalografi). 

Tenaga Kesehatan jiwa ini berupa Psikolog khususnya Psikolog klinis, Psikiater (dokter spesialis kejiwaan), perawat jiwa, dan caregiver (keluarga, teman atau lingkungan dari penderita yang kurang baik kesehatan jiwanya).

Biasanya, saat orang sudah diakui terganggu kesehatan jiwanya, maka pendidikan di keluarga dan lingkungan sosialnya juga akan ikut berubah atau mungkin malah sama saja. Namun, kebanyakan lingkungan baik di keluarga ataupun di lingkungan sosial cenderung untuk mengasingkan para penderita disabilitas mental ini. 

Kenapa? Hal ini dikarenakan para penderita disabilita mental ini adalah sosok yang hanya bikin malu dan hanya bisa menyusahkan orang lain serta selalu membuat mereka kehilangan kesabaran dalam menangani orang-orang yang memiliki masalah pada kesehatan mental mereka. Padahal, orang-orang ini membutuhkan lingkungan yang baik dalam mendukung selama proses penyembuhan atas diri mereka. 

Seandainya kita ada di posisi mereka bagaimana rasanya? Sendirian dan saat membutuhkan pertolongan malah disuruh diam dan diusir keluar atau diberlakukan psikososial

Satu hal yang saya tekankan disini, mereka yang mengalami gangguan kesehatan baik fisik ataupun mental tidaklah perlu untuk dikasihani. Kalau kita mengatakan kasihan, pastilah tersinggung. Soalnya, saya sendiri juga begitu. Karena kebetulan saya terganggu kesehatannya baik secara fisik maupun mental. Namun saya bisa bertahan atas izin Tuhan tentunya dan bersyukur karena mengalami ini. 

Ada pertanyaan yang muncul lalu, gimana ya? Bingung? Tidak perlu bingung, mereka yang kurang baik kesehatan fisik ataupun jiwa atau keduanya hanya butuh motivasi supaya hidup mereka bisa lebih bermakna dengan kondisi mereka yang sekarang. Semoga tulisan di blog ini bermanfaat, terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...