Monday, May 5, 2014

Aku sang Zombigaret



Aku adalah zombigaret. Zombigaret itu adalah orang yang kecanduan merokok. Setiap hari, aku menghisap rokok minimal satu bungkus. Saat merokok, aku merasa tenang, namun aku kebingungan pada saat tidak memiliki uang untuk membeli rokok. Hal ini dikarenakan aku hanyalah seorang kuli bangunan yang harus menghidupi keluarga. 

Sekalipun kesulitan dalam perekonomian, tapi aku tidak perduli karena yang penting buat aku adalah merokok. Padahal, aku pernah ke puskesmas dan di rujuk dengan menggunakan JAMKESMAS untuk ke Rumah sakit karena batuk berdahak beserta sariawan yang tidak kunjung sembuh. Ini juga setelah di nasehatin sama beberapa orang untuk berobat.

Dadaku sering sesak, aku sering terpotong saat bicara dengan “Uhuk, uhuk” yang sering di protes sama orang “Berisik kamu”. Lantas, aku harus bagaimana untuk bersosialisasi? Ini sering membuat aku kalut, hidup segan mati tidak mau. Kenapa harus mati? Kan bukan zombigaret dong namanya, tapi hantugeret. Kok hantugeret, iya hantu tergeret jadi gentanyangan di dunia dan tergeret di neraka.

Hari itu, tepat pada Selasa, 29 April 2014 aku di RS. Awalnya diminta ke dokter umum, namun aku diminta ke dokter THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), akupun diminta untuk melakukan beberapa periksaan, ternyata aku terkena kanker mulut dan tenggorokan. Kemudian, aku juga diminta ke dokter paru-paru dan aku diminta untuk melakukan tes reak yang diambil selama tiga hari berturut-turut pada pagi hari dan tahukah bagaimana rasanya diambil dahak pagi-pagi dengan memaksakan dahak untuk keluar? Sakitnya bukan main, rasanya seperti mau mati, lalu aku juga harus scan Thorax, periksa darah dalam seminggu semua hasil tes harus sudah ada dan aku harus kembali ke dokter paru-paru tersebut. Ternyata, aku mengidap kanker paru-paru.  Dokter berkata hidupku tinggal 20 tahun lagi. 

Lengkap sudah penderitaanku karena mendengarkan pernyataan dari dokter-dokter tersebut, ternyata penderitaanku bukan hanya itu saja, semua orang semakin menjauhi diriku kaena takut ketularan. Siksaan ini belum berakhir, aku harus dikeluarkan dari pekerjaanku sebagai kuli bangunan. Kenapa? Soalnya kerjaanku semakin lama semakin lambat. 

Namun, rokok tidak pernah berhenti terhisap di mulutku. Hal ini dikarenakan aku selalu dikasih uang dan dibiarkan senang-senang oleh anak-anakku yang sudah bekerja, oleh saudara-saudaraku yang rata-rata zombigaret juga ternyata. Hal ini aku ketahui setelah aku menceritakan bahwa aku mengidap penyakit kanker mulut, kanker tenggorokan, dan kanker paru-paru. Namun, mereka hanya mengidap satu penyakit saja dan lagi-lagi karena berbeda, akupun diasingkan dari keluargaku sendiri. Betapa menyedihkannya kondisiku ini.

Lama kelamaan, istriku, anak-anakku juga lelah mengurus diriku, mereka sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung biaya untuk membeli obat-obatan untuk menyambung nyawaku sebagai penderita kanker. Apalagi mereka juga harus membelikan makanan dan minuman sehat untukku seperti sayuran hijau, buah-buahan, namun karena aku yang lama-lama bosan dengan menu yang begitu-begitu saja, maka aku ngomel “Ini kok makanan dan minuman kaya gini?” sambil melempar piring. 

Awalnya, mereka hanya diam saja. Lambat laun Istri dan anak-anakku berkata secara pelan “Mohon mafkan kami bapak, tanpa mengurangi hormat kami yang sudah kurang sanggup dalam bersabar merawat bapak, khususnya karena keluhan bapak yang tidak habis-habisnya serta perkataan kasar yang merendahkan kami serta sumpahan ke kami sebagai anak-anakmu, maka kami menyatakan mengundurkan diri dan memutuskan untuk pindah ke rumah saudara yang lain.”

Ya sudah! Aku bisa hidup sendirian kok! Ternyata, aku sulit bangun, sulit berjalan, sulit makan dan minum, bahkan tanpa ada siapapun yang memberikan perhatian dan akupun membayangkan perkataan salah satu anakku yang berkata “Pak, makan dulu ini”. Rasanya sungguh tersiksa.

No comments:

Post a Comment

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...