Tuesday, October 3, 2017

Healing self dari bullying

LPSK (Lembaga perlindungan saksi dan korban) adalah lemaga hukum dengan visi dn misi sebagai berikut

Visi

Visi Lembaga Saksi dan Korban adalah:

”Terwujudnya perlindungan saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana”

Visi ini mengandung maksud bahwa LPSK yang diberikan mandat oleh undang-undang selaku focal point dalam pemberian perlindungan saksi dan korban harus mampu mewujudkan suatu kondisi dimana saksi dan korban benar-benar merasa terlindungi dan dapat mengungkap kasus dalam peradilan pidana.


Misi

Dalam rangka mewujudkan visi di atas, Lembaga Saksi dan Korban memiliki misi sebagai berikut :

1. Mewujudkan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bagi saksi dan korban dalam peradilan pidana.

2. Mewujudkan kelembagaan yang profesional dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bagi saksi dan korban.

3. Memperkuat landasan hukum dan kemampuan dalam pemenuhan hak-hak saksi dan korban.

4. Mewujudkan dan mengembangkan jejaring dengan para pemangku kepentingan dalam rangka pemenuhan hak saksi dan korban.

5. Mewujudkan kondisi yang kondusif serta partisipasi masyarakat dalam perlindungan saksi dan korban.

dengan struktur organisasi :
Ketua : Abdul Haris Semendawai, S.H., LL.M
Wakil ketua : Dr.Lies Sulistiani, S.H., M.H., Lili Pintau Siregar, S.H., Prof. Dr. Teguh Soedarsono, Edwin Partugi Pasaribu, S.H., Drs. Hasto Atmojo Suroyo, M.Krim, DR. Askari Razak, S.H., M.H.
sekretaris : Armein Rizal B., Ak., MBA.

LPSK mengadakan lomba bblog dengan tema “Diam Bukan Pilihan” dengan salah satu subtema pilihannya adalah menegai bullying/kekerasan.

Saya tertarik menulis ini karena pernah menjadi victim (koran) kekerasan. Kekerasan dimulai sejak usia saya 15 tahun. Orang-orang seharusnya melindungi, menyayangi, mempercayai, jadi contoh, malah menjadi sosok yang mengerikan.

Saat itu, saya suda selesai berbuka puasa bersama di rumah teman SMP, saya sudah mencoba menelepon berkali-kali ke rumah, tetapi tidak ada yang mengangkat, jadi saya memutuskan untuk pulang bersama teman SMP yang setahu saya rumahnya dekat dari rumah saya dan saya lebih aman berbonceng dengan dia karena dia laki-laki dan dibonceng di sepeda motornya. Sesampainya, saya dipukul dengan sapu lidi, telinga kiri saya dijewer sampai berdasrah lalu dituduh yang tidak-tidak, karena tidak percaya maka diminta nomor telepon teman.

Mulai saat itu....kekerasanpun terus berjalan

saya kena bully mental dengan dijeritin, “Wanita murahan!”.

Mulai SMA, semua kerjaan rumah di kritik, semua salah, akhirnya membuat saya jadi kurang mau melakukan pekerjaan rumah hingga kini. Saya sudah agak lupa SMA apa yang terjadi, saya mencoba untuk masuk ekstra kurikuler PASKIBRA karena tertarik soalnya saat MOS mereka demo dengan jerit-jerit, jadi saya bisa melampiaskan jerit karena masalah dengan jeritan saat melakukan kegiatan baris berbaris.

Senang rasanya ketika kelas 2 SMA saya dipilih jadi ketua koordinator, katanya tadinya saya mau dipilih jadi ketua. Disana, saya memberikan pengumuman latihan baris berbaris.

Saya diperkenalkan game online, disitulah saya melarikan diri dan mulai kecanduan game.

Namun karena sedih dan marah sama perilaku kekerasan yang saya dapati, akhirnya saya memutuskan untuk menghancurkan diri sendiri, yup, nilai pelajaran saya hancur, padahal saya waktu itu di tempatkan di kelas IPA paling unggul.

Sayapun masuk kuliah S1, saya memutuskan untuk menjadi pegurus organisasi di sebuah institusi, pertama kali pengalaman berorganisasi saya menjadi humas yang membagikan informasi seminar. Dari situlah saya mulai suka menjadi humas.

Saya melakukan curahan hati ke sebutlah namanya Jida.

Saya memutuskan untuk konsultasi ke salah satu dosen, saya menulis kekurangan, kelebihan, disitulah saya menyadari bahwa saya berubah jadi jahat karena membenci orang yang yang saya sayangi, dari situlah saya mulai banyak berubah.

Seiring dengan waktu saya mengetahui, Jida yang saya pikir adalah sahabat saya, rupanya mengadu domba. Saya membaca dan mengetahui walaupun namanya di rahasiakan, namun saya tahu dia sudah berkhianat.

Saya tegur dia, dia berjanji akan merahasiakan dan percaya saja sama dia, rupanya dia berbohong, dan menghianati saya, saya tidak percaya lagi sama dia, karena teman yang baik adalah teman yang bisa jaga rahasia, melindungi saat ditanya, ada dalam suka dan duka, menghibur saat duka, mendengarkan curhat, memberikan solusi untuk keluar dari masalah.

Tidak hanya Jida, ada Fira yang juga mengadu domba. Saya curhat di komen jejaring sosial, malah diadu domba, curhat di suatu tempatpun sama.

Walhasil karena tidak ada tempat curhat, curhatlah saya di Facebook, itu di adu domba juga. Ketika sedang bikin kue, saat saya sudah berkata, “Saya ga suka bikin kue, kaerna memang ga ada hati untuk itu”, lalu dijawab dengan perkataan, “Pantas saja ga punya hati, curhat di facebook”.

Saya pernah di bully mental dengan disumpahi gila.

Orang yang seharusnya jadi contoh, malah menyuruh orang yang saya sayangi buat ngeroyok, akhirnya mereka berteriak, “Anak durhaka” setelah rambut saya dijambak.

Sayapun belajar lagi. Saya direkomendasi oleh salah seorang dosen untuk masuk grup facebook disabiltas mental. Disana, saya bilang kalau saya penyandang disabilitas mentl dengan maksud untuk memotivasi kalau masih bisa kuliah, bisa kerja kok walau menyandang disabilitas mental.

Teman-teman membuly saya dengan mentag saya, mereka mengatakan kalau saya bodoh karena mengatakan kalau saya adalah penyandang disabilitas.

Penglihatan sayapun menurun, orang yang seharusnya bisa menerima, memberikan dukungan moril malah menentang.

Sepulang dari sebuah acara keluarga, saya dipukul, ditendang, dijeritin malu oleh semua. Karena sedih, saya mendoakan yang mukul dan nendang terkena gangguan pengihatan dan itu terkabul atas izin Tuhan.

Saya dipaksa, diteriakin bodoh, diteriakin binatang. Saya dicekik, tangan saya dicengkeram kuat sampai memar. Ini foto tangan saya bekas dianiaya hari itu





Setelah itu, saya mengalami bully ekonomi dengan hp andorid dan netbook saya disita, dan tidak pernah dinafkahi, cuma sekali dinafkahi dan sekali dikirimi uang buat beli baju dan dua kali buat berobat mata. Untuk beli sabun, sampo, rinso, saya bingung mengaturnya, belum lagi harus mencari cara untuk menyembbukan diri sendiri dengan mencari kesenangan yakni dengan menyambung silaturahmmi, menulis blog, menulis di Facebook.

Sesungguhnya saya ingn memutus rantai kekerasan dengan dimulai dari diri sendiri, sebisa mungkin saya tidak menyakiti orang walau hanya dengan kata-kata, terbesit rasa kasihan kalau menyakiti mereka.

Saya tetap merawat diri saya dengan mandi, keramas, dan mengurus diri sendiri dengan makan tepat waktu, minum yang cukup.

Saya berusaha untuk mencari solusi dengan melakukan curhat kepada orang pintar dan bijaksana supaya bisa keluar dari masalah dan berusaha keluar dari lingkaran setan yakni kekerasan.

Saya berusaha untuk menaati aturan.

Saya berusaha untuk mencari lingkungan dan teman yang baik. Saya memblokir teman yang menertawakan, yang mencela baik di message, di komentar, dan memblokir teman yang suka update status menghina.

Bukan cuma menghindari pencela, saya akan mencari lingkungan yang tidak menyalahkan, tidak marah dan membentak saat dimintai tolong karena kekurang perdulian mereka, tidak suka mengusir dan memblokir orang.

Saya sendiri membantu membuat komunitas dengan tidak menusir orang kecuali dia mencela karena bisa berdampak buruk buat anggota lain karena dalam Psikologi belajar ada yang namanya modelling.

Modelling adalah meniru perilaku dari role model mereka, bisa guru, teman, orang tua, orang yang lebih tua, model, pejabat.

Selain itu, saya juga berusaha untuk mencegah supaya tidak ada korban kekerasan lagi, makanya saya mencoba untuk menulis di https://www.kartunet.com/tips-hindari-bully-untuk-penyandang-tunanetra-perempuan-11638/ dan https://www.kartunet.com/tips-menghindari-bully-di-pendidikan-untuk-penyandang-disabilitas-11500/.

Dari lingkungan saya rasa juga perlu, karena walaupun dianggap gila hanya karena hallo effect bahkan berkenalan dan berkawan saja tidak mau, setdaknya, seharusnya masyarakat juga memberikan lingkungan yang baik dan positif. Bukan malah menjerit pesong/gila/cacat mental/senu dan jeritan lainnya dengan tujuan supaya sadar dengan mempermalukan

Lalu, untuk institusi pendidikan, walaupun jadi kekurangan, seharusnya dicari apa potensi yang bisa dikembangkan, serta tidk perlu memanggil yang mempertanggung jawabkan atas saya atau tidak perlu datang ke rumah sambil marah tidak keruan.

Padahalkan dalam UU disabilitas, penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama dalam pendidikan.

Lalu ke pemerintah, saya berharap, untuk tidak menerapkan kekerasan, taat pada aturan jadi dengan tegas menindak aturan.

6 comments:

  1. Bener banget bun. Banyak sekali sebenarnya pelaku bully itu adalah orang tua sendiri. Untuk itu berhati2lah kita ktika mnjadi ortu

    ReplyDelete
  2. Saya ikut prihatin atas korban bullying yg kyk gtu :(
    Saya paling sedih kalau ada anak dibully di sekolah :(
    Pdhl sbg org tua kita jg gk bisa ngawasin saat anak di sekolah.
    Ya Allah moga dijauhkan dr bullying.
    Btw kapan harui saya ikutan talkshow ttg nullying dan ada bbrp pembahasan menarik mbk, kalau berkenan mampir blog saya TFS

    ReplyDelete
  3. Ya Allah turut prihatin Mbak, makasih banyak juga sharingnya. Duh, semoga para pihak yang berkepentingan memiliki solusi ya

    ReplyDelete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...