Monday, June 22, 2015

5 hari puasaku

Puasa, mendengarnya aku begitu suka cita. Walaupun tidak semulus suka, bukan hendak bermaksud eksis, durhaka dan maksud buruk lainnya. Kisah ini semoga bisa menguatkan untuk yang lainnya dan bisa disyukuri dengan keadaannya yang sekarang walapun ada yang lebih buruk kondisinya.

Rabu, 18 Juni 2015. Aku sudah meniatkan diri untuk melakukan Sholat Tarawih di rumah seperti tahun lalu ketika mata ini penglihatannya menurun atau bahasa Inggrisnya adalah low vision. Aku kurang berani bersosialisasi dan beribadah di luar.

Masuklah puasa hari pertama adalah  hari kamis, 18 Juni 2015. Aku demam. Aku terbaring seharian, setelah seminggu menahan demam, sakit kepala dan sakit mata karena memaksakan diri membaca tulisan-tulisan di kertas-kertas.

Sorenya, aku dibawa ke klinik. Klinik yang merupakan fasilitas kesehatan satu asuransi BPJS. Saat masuk ruang dokter aku tertawa “Hahaha” terus diskusi seperlunya.

Dokternya bilang, aku harus bed rest, bahkan disuruh langsung opname di Rumah sakit pada malam itu juga apabila tidak nyaman. Melihat lidah yang berwarna putih, batuk, demam, katanya sariawan dan tipes ini. Tapi disuruh balik lagi esoknya untuk melakukan pengecekan darah, tidak boleh puasa dulu.

Jumat pukul Sembilan kurang, aku dibangunin ibuku. Aku diminta menyiapkan makan dan minum. Kami ke klinik. Pas mau nyampe, aku lupa. Astaga, tumbler/tempat minumnya aku tenteng lagi. Duh, tidak menghormati orang yang puasa. Maaf ya.
Sampai di klinik, petugas bilang “Pemeriksaan darah untuk tipesnya ditanggung BPJS, yang DBD tidak, mau disini atau di luar? Silahkan?” sehingga ibuku bertanya “Berapa tes DBD?”, “70 ribu” jawab petugas. “Ok”
dibawa ke ruangan. Aku bertanya “Mbak perawat?”, “Bukan, aku bagian lab” jawabnya, “Disini ada periksa toksoplasma dan kanker ga?” tanyaku. ”Oh ga ada” jawabnya.
Aku menunggu sama ibuku. Akhirnya, dipanggillah.
Dokternya bilang, “Tipes ga kena, soalnya tidak memenuhi enam karakter ini.” Yang aku tanya “Demam berdarahnya gimana dokter?”, “Ga kena kok, trombosit normal, tapi memang ini leukositnya kena”. Setelah itu, aku pulang ke rumah.
Sholat sambil tidur di kamar yang ada di rumah.

Sabtu, 20 Juni 2015 karena bingung bagaimana
Aku memaksakan diri ikut sholat berjamaah dan setelah selesai, aku oleng saat mau duduk dan salim ke ayah.

Minggu, 21 Juni. Aku mengikuti perintah ibuku untuk sholat jamaah. Aku ikut Sholat Isya sambil nahan sakit mata dan sakit kepala.  

Senin, 22 Juni. Aku mencoba menghasilkan karya lagi di note Facebook setelah memotong untuk melihat kardus-kardus dan mencari buku-buku untuk membantu belajar. Lalu, jam satu siang aku menulis di Word untuk apa yang ada di blog ini. Sembari aku melatih kemampuan bahasa,

kemampuan komunikasi yang masih kurang banyak disitu dan menulis seperti spam satu, sepotong-sepotong.

Ya, itulah kisah Ramadhan yang aku tulis di rumah, di kamar tercinta.

Sesungguhnya aku kurang suka ada di rumah, lebih suka di luar dan bergerak kesana-kemari.

6 comments:

  1. Agak ribet juga yah kalau sudah terbiasa bergerak terus tiba-tiba kebanyakan hanya berdiam diri di rumah.

    ReplyDelete
  2. wah.. saya kok khawatir dengan penglihatannya. jangan dipaksain baca mbak, istirahat saja dulu biar matanya membaik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih untuk kekhawatirannya mba
      Aku ga apa kok
      tidak bisa mba, kondisi sering buat aku terus maksain liat
      Susah cari relawan baca
      Yah baca kalo ada yang masi terbaca oleh screen reader di hp dan komputer mendingan deh, karena aku harus tetap membaca mba supaya bisa dapat pengetahuan dan belajar

      Nunggu sampai kapan?
      Hidup harus terys berjalan mbak

      Delete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...