Monday, December 22, 2014

Pendidikan

Pendidikan merupakan elemen penting dalam memerangi kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Sungguh di sayangkan, pelayanan pendidikan di Indonesia masih diwarnai permasalahan. Masalahnya yaitu banyaknya guru yang tidak memiliki kompetensi sesuai syarat karena guru honorer direkrut sendiri oleh sekolah dimana guru tersebut tanpa adanya kualifikasi sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah, kesulitan akses terhadap institusi pendidikan karena salah satu indikator SPM menyebutkan bahwa satuan pendidikan harus tersedia dalam jarak yang terjangkau dengan berjalan kaki, tidak ada atau kurangnya meja dan kursi untuk belajar, adanya pemilihan dan penolakan dari guru, pihak sekolah/institusi pada calon atau murid penyandang disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu, dan sebagainya. Padahal, masyarakat cenderung merendahkan penyandang disabilitas karena tingkat pendidikannya. Namun, pendidikan masih belum juga berpihak kapada mereka. Kenapa ya? Padahal teknologi sudah semakin maju.

Masalah juga mencakup adanya kesenjangan kualitas sekolah seperti lemahnya manajemen, terbatasnya infrastruktur, kacaunya administrasi. Infrasturktur juga tidak menjangkau untuk penyandang disabilitas, khususnya tuna netra yang membutuhkan media braille, suara, komputer bicara dan trailing, bukan hanya tuna netra, infrastuktur juga kurang mendukung bagi penyandang tuna daksa yang kemana-mana harus mengenakan kursi roda, tapi sekolah/institusi belum menyediakan jalan khusus dan trailing untuk membantu.

Direktur Jendral Pendidikan Dasar Kemendikbud yang bernama Hamid Muhammad berkata “Sekolah yang berada di bagian timur Indonesia sering bermasalah dalam penyediaan buku pelajaran, kekurangan infrastruktur banyak dialami oleh sekolah swasta karena anggaran yang tidak mencukupi” di sela pemaparan Hasil Studi Terkini Standar Pelayanan Minimum (SPM) di tingkat Pendidikan Dasar.

SPM sangat penting karena perwujudan nyata dari dari pernyataan bahwa setiap anak di Indonesia berhak mengecap pedidikan meski berada pada tingkat minimal. SPM membantu menyusun jalur yang jelas bagi pemerintah, sekolah, dan komunitas untuk dapat terlibat dalam mencapai tujuan ini.

Sumber :
Anonymous.

Memeratakan pendidikan bermutu. Republika, 19 Desember 2014 halaman 19.

5 comments:

  1. jangankan di Indonesia bagian timur Bu.. di kota besar ada juga institusi pendidikan yg masih belum layak. banyak institusi swasta yang fasilitas belajar mengajarnya masih minim terutama swasta :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, semoga ndidikan kita cepat berubah jadi lebih baik yaaa, amin

      Delete
  2. Maaf barang kali sedikit OOT... kalau ada siswa yang masih mencari les diluar jam sekolah...itu apakah tandanya ada kegagalan dalam mengajar dari seorang guru?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum tentu itu kegagalan dari seorang guru, harus ditelusuri dahulu lebih mendalam.....

      Delete
  3. Hmm, sedih, pilu, apalagi kalo di suatu tempat itu anak-anaknya punya semangat sekolah, duh rasanya keiris hati

    salam,
    kesya

    ReplyDelete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...