Saturday, May 12, 2018

Keterlibatan keluarga di zaman sekarang

Halo, saya Tyaseta, penulis blog ini. Sebelumnya, terima kasih sudah bersedia untuk membaca tulisan saya, apalagi sudah berkomentar disini. Sungguh suatu kehormatan bagi saya mendapatkan kunjungan dari kakak-kakak semua.

Kali ini, disini, saya mau menulis untuk lomba blog yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang bertema tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian.

Keluarga dalam era kekinian, kalau menurut saya sangatlah memegang peranan yang penting bagi anak (diri kita).

Seperti salah satu contoh yang saya baca di https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index. php?r=tpost/xview&id=4648 dialami oleh saudari Laura Adelia Dinda yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan luka fisik dan luka mental yang membuat dia hampir bunuh diri atau marah dengan keadaan menjadi hal yang dimaklumi setelah rangkaian peristiwa yang dialaminya karena dia yang terbiasa beraktivitas normal mendadak tak bisa melakukan apa-apa dalam kurun waktu yang cukup lama.

Dalam buku pegembangan model DPA bagi pendidikan anak dan remaja yang diterbitkan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, DPA bisa dilakukan oleh orang-orang di lingkungan Adelia, khususnya orang-orang yang termasuk ke dalam keluarganya.

Untuk melakukan DPA, pertama, kita harus melakukan yang namanya memahami situasi, jangan setelah anak mengalami suatu kejadian baik itu kecelakaan fisik, dipecat dari tempat dia kerja, mengalami tekanan mental karena terus dijerit-jeritin di lingkungannya karena sesuatu yang ada pada dirinya seperti dia menjadi penyandang disabilitas fisik setelah mengalami kecelakaan dianggap aneh, lucu malah itu membuat keluarga malah merasa harus menyalahkan anak atas situasi yang dialami oleh si anak sehingga malah melakukan perilaku menyalahkan dan malu.

Orang yang berada di lingkungan luar dari keluarga inti dari anak, belum tentu bisa menerima keadaan si anak. Mereka cenderung tidak perduli, apatis, yang penting buat mereka, mereka merasa itu benar dengan menjeriti anak karena dianggap aneh, dianggap berpura-pura, bahkan mereka tidak berpikir dampak menertawakan anak, dampak menjeriti gila terus menerus ke anak.

Coba saja setiap hari dijeriti gila/pesong/cacat mental. Apa tidak malah membuat si anak menjadi sedih dan marah? Apa lama-lama tidak membuat si anak malah melakukan agresivitas yang malah kalau dilakukan malah membuat mereka menjadi semakin yakin kalau keyakinan mereka selama ini kalau anak itu memang gila.

Apakah itu yang kakak harapkan dari anak yang diberlakukan gila? Ingin mereka jadi gila?

Sudah begitu, anak sudah berusaha untuk memberikan penjelasan, atau melakukan perlawanan seperti membalas. Namun, mereka tetap meneruskan apa yang mereka lakukan. Mereka tidak perduli.

Rasanya seperti sudah jatuh, tertimpa anak. Akhirnya membuat anak malah merasa kemana keluarganya? Anak akan merasa down bahkan ada kecenderungan merasa depresi (ingin bunuh diri).
Anak akan terpikir ‘Kenapa keluarganya tidak mengerti dan memahami dirinya?’ Sehingga anak akan lari, mending kalau lari ke lingkungan yang benar.

Kalau malah salah bergaul gimana? Seperti bergaul di lingkungan yang liar dimana mulut dan tangan yang dengan entengnya menghina orang lain, bahkan dianggap sebagai suatu hal yang biasa oleh lingkungan itu, maka anak akan menjadi pribadi penghina juga. Atau yah dia menjadi pribadi yang pemarah, suka ngedown.

Mending kalau cuma itu, kalau masuk ke lingkungan preman, atau orang-orang yang kurang baik yang mengajak dia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik gimana? Seperti mengajak berhubungan seksual di luar nikah. Apa mau anak kita jadi orang jahat? Apa kita mau? Apakah terpikir oleh kita akan jadi bagaimana anak kita nanti?

Itulah disini, menurut saya peranan keluarga sangatlah penting. Sekarang, kita kembali ke cara menangani anak, apabila anak mengalami kejadian seperti Adelia.

Langkah selanjutnya setelah memahami anak, cobalah kita sebagai keluarga mencoba untuk menanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu menghadapi masalah yang sedang dihadapi.

Langkah berikutnya, mengenali dan memberikan perhatian, mendengarkan, kemudian menghubungkan dengan sumber dukungan lain yang dapat berpartisipasi aktif utuk membantu menyelesaikan masalah.

Oke, seandainya anak seperti Adelia ditekan terus, kemudian memiliki kecenderungan mengalami bipolar (rasa senang yang berlebihan, ide-ide yang tiba-tiba muncul, sering depresi) apa yang dilakukan oleh keluarga? Tidak usah merasa malu apalagi sampai membuat anak yang mempunyai mimpi seperti mempunyai keinginan untuk berkuliah di luar negeri.

Sebagai keluarga jangan malah dibuat down dengan berkata, “Tuh lihat, dia saja yang pintar saja pontang-panting”, “Alah, kamu kan mentalnya begitu, mana bisa!”, “Alah, kamu saja mengendalikan emosimu dengan obat, ga bisa ngapa-ngapain. Udahlah diem duduk manis di rumah. Kan enak tinggal makan, tidur dan tidak mengganggu orang lain di luar.”.

Biarlah anak menggapai mimpinya, berilah dukungan mental dan materi kepada si anak. Meskipun yah, secara materi ada keterbatasan.

Kalau punya netbook/laptop, modem, berilah anak fasilitas. Beri dukungan mental kepada si anak, apalagi apabila anak berhasil menemukan tempat yang mungkin bisa mendukung dia untuk meningkatkan potensi dirinya seperti misalnya anak menemukan tempat untuk kursus bahasa Inggris, tempat untuk belajar komputer, atau tempat-tempat lain, dukung dia.

Dan pada saat mencoba meraih beasiswa di luar negeri, saya sebagai penulis mengalami kendala dimana tidak ada tempat yang mau menyediakan pembaca (reader) dan membiarkan tunanetra untuk melakukan tes Toefl ITP.

Sudah begitu, saya mencoba menjelaskan duduk perkara ini ke penyelenggara beasiswa dan Universitas, tetapi mereka tidak mau tahu. Pokoknya harus ada hasil IELTS.  Dan ketika hal ini saya ceritakan ke papa, beliau berkata, “Sadis, tapi ya tidak apa-apa, karena dengan begitu jadi tantangan kalau memang harus bisa, Tuhan tidak memberikan cobaan yang tidak mampu dilalui HambaNya”.

Untuk melakukan tes IELTS kan mahal, butuh dana dua jutaan Rupiah, kalau hanya sekedar mencoba tes atau melakukan tes tetapi terus menerus gagal kan uangnya sayang. Sudah mana saya juga mengalami keterbatasan dalam keuangan.

Buat makan saja terbatas, harus pintar dalam mengatur. Mau keluar ikut acara disuruh berhemat. Namun ini membuat saya menjadi belajar untuk mengatur uang dengan baik meskipun yah gitulah pusing ngaturnya hahahaha, dan hikmahnya adalah saya menjadi orang yang tidak konsumerisme, kalau ada barang-barang yang sedang mode kan jadi tidak ikut-ikutan. Selain memang saya dari dulu memang kurang suka mengikuti mode yang sedang tren.

Bicara soal keterbatasan uang, saya mendapatkan link https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/ index.php?r=tpost/xview&id=919. Rupanya beliau juga pernah mengalami keterbatasan keuangan.

Ya beliau adalah guru saya. Saya dipertemukan oleh Tuhan melalui seseorang dimana pada saat itu sedang dalam kondisi kebingungan, soalnya tidak menemukan tempat yang tepat untuk belajar bahasa Inggris di tempatnya.

Materi bahasa Inggris memang bisa didapatkan dengan mudah di Google, namun, saya tidak mengerti dan kesulitan. Saya pernah mencoba mencari di Google, tapii…… salah satu yang jadi masalahnya adalah anggaran lagi.

Hah, ya sudah, mau gimana lagi?

Karena tidak bisa tes Toefl ITP, hal ini membuat Pak Taufiq Effendi membantu memberikan solusi lain yakni memberikan informasi mengenai tes TOEIC, meskipun pada akhirnya saya tidak bisa menjalaninya karena suatu hal. Namun, ayah saya tetap mendukung. Beliau meminta saya untuk memasang target mendapat skor IELTS minimal 7,5 jadi saya patok saja sekalian minimal 8.

Karena saya mempunyai mimpi yang besar, walaupun saya tertahan untuk lulus S2 karena tidak bisa melihat cahaya, tidak bisa melihat kertas alias menjadi tunanetra. Itu tidak menghalangi semangat saya. Yah, meskipun bisa lulus S2nya, saya akan tetap ingin membuat sesuatu, melakukan riset.

Memangnya kenapa? Putus asa? Tidak! Saya jadi sedikit termotivasi karena rupanya di https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=889 pak Taufiq Effendi pernah mengalami putus asa karena tidak bisa sekolah. Sekarang, beliau sudah dibilang sukses karena diundang menjadi pembicara, mengajar di lebih dari satu tempat.

Mentang-mentang saya tunanetra lalu putus asa? Mentang-mentang saya berhalusinasi suara terus tidak bisa sekolah? Eit tunggu dulu. Dulu, ketika saya masuk S2, saya berhalusinasi suara, dan  disamping itu saya juga ikut belajar bahasa Inggris di suatu tempat.

Saya bisa belajar kok. Nilai mata kuliah saya tidak ada yang C dimana kalau mendapatkan C itu wajib mengulang.

Walaupun pada saat ini saya kesulitan saat mau naik angkot karena pernah minta tolong sama orang malah dilempar/dipindah tangankan, lama menunggu; saya jatuh-jatuh membuat harus menahan sakit di lutut karena luka; mengalami stress karena tidak bisa ikut tes Toefl ITP; sempat mengalami stress berat sampai-sampai cuma mengisi form saja tidak bisa saya lakukan padahal tinggal ngetik saja bukan masalah formnya dalam bahasa Inggris haaaah coba ya ada beasiswa di luar negeri yang syaratnya ringan yah syukur-syukur bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa tanpa syarat heee ngarep hehehe, memprioritaskan penyandang disabilitas; dan mengalami kejadian tidak mengenakkan seperti salah satunya mengalami pelecehan seksual.

Dalam perjalanan hidup, anak ada kemungkinan akan mengalami yang namanya pelecehan seksual dimana anak kecil dan anak perempuan sering rentan mengalaminya.

Sebagai kelurga, ketika anak mengeluh terkena pelecehan, ajarkan anak untuk mau berani untuk menolak dengan baik kepada orang yang melakukan perilaku pelecehan itu, menghindari jalan yang dilaluinya. Namun, kalau orang itu tetap melakukan aksinya, ajarkan anak untuk berteriak meminta tolong, berlari kabur, dan sesuatu.

Yap, pelecehan pernah saya alami.

Dari yang supir angkot tiba-tiba tangannya gitu yang untungnya orang yang duduk di sebelah saya pindah ke belakang, sehingga saya bisa pindah bergeser dan ketika dia minta, “Jangan turun dulu, nanti saja, ikut abang dulu” membuat saya menjawab, “Tidak bang, saya mau turun cepat.”. soalnya kalau turunnya nanti malah diapa-apain.

Ada lagi yang memaksa untuk menolong mengantarkan saya dengan motornya disertai dengan perkataan kasihan.

Sebenarnya saya tidak suka kalau ada kata “Kasihan terluncur dari mulut orang”, karena terpaksa akhirnya saya terima pertolongannya, eh rupanya pada saat sampai tujuan malah tangannya menjalar terus malah bilang ke tukang mie ayam kalau dia adalah pacar saya. Hah? Kapan pacaran? Kayak gini jadi pacar? Mana mulut kasar tidak hormat sama seorang ibu. Pas pulang malah saya dipaksa menghafal nomor teleponnya, untungnya saat ini saya tidak bisa menghafal jadi ya lupa. Lagipula, buat apa menghubungi pria seperti itu?

Ada lagi seorang pria tiba-tiba menghampiri saya. Dia berkata, “Sudah kawin belum?”. Jadi saya jawab, “Belum”, dia bilang, “Kawin sama saya yuk” yang membuat saya menolak dia dengan berkata, “Tidak terimakasih”. Tidak kenal main mengajak nikah. Sudah begitu, saya sedang makan, dia menghampiri saya dengan rayuannya yang bilang, “Cantik…” apa gitu saya lupa perkataannya dan saya diamkan saja karena kebetulan juga sedang sarapan. Dan terakhir kalinya dia menghampiri saya karena tiba-tiba ada suara yang berkata, “Kawin yuk, enak loh”. Hal tersebut membuat saya marah namun tidak berkata kasar, saya marah soalnya dia pikir apa? Memangnya saya perempuan apa? Saya bukanlah perempuan yang bisa mudah diajak tidur, dia tidak melihat apa kalau saya menggunakan kerudung?  Semoga itu terakhir kalinya saya mendengar itu darinya.

Disini, menurut saya peranan keluarga sangatlah penting, karena orang tua harus mendidik bagaimana anak perempuan menjaga dirinya karena dulu ibu saya pernah bilang, “Jangan mau diajak ke rumah atau tempat cowok, jangan mau apabila diajak melakukan itu”, penting bagi orang tua untuk mendidik bagaimana anak prianya cara bagaimana menghormati perempuan dengan tidak meminta yang aneh-aneh hanya untuk memenuhi nafsu birahinya. Untuk menolak, dalam psikologi, perilaku tersebut dinamakan perilaku asertif.

Rini (dalam penelitian yang berjudul Perilaku asertif pada remaja awal yang dilakukan oleh Made Christina Novianti dan DR. Awaluddin Tjalla), yaitu bahwa asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

Yap, kita harus bisa mengomunikasikan kalau tidak ingin dilecehkan, namun tetap menjaga perasaan orang lain dengan berkata baik bukan berkata liar, berkata kasar, berperilaku kasar.


#Sahabatkeluarga, sekian tulisan ini di blog saya. Apabila ada kata yang kurang berkenan, #sahabatkeluarga saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. 

6 comments:

  1. Keluarga memang sangat berperan dalam pembentukan karakter anak ya Kak? Tulisan yang menarik. Salam kenal..

    ReplyDelete
  2. petuah orangtua yg kita rasa jelimet baru akan disadari manfaatnya setelah kita dewasa

    ReplyDelete

Alamat Website

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...